Harga Minyak Dunia Melonjak di Atas 100 Per Barel Buntut Blokade AS ke Pelabuhan Iran

news.fin.co.id - 13/04/2026, 11:48 WIB

Harga Minyak Dunia Melonjak di Atas 100 Per Barel Buntut Blokade AS ke Pelabuhan Iran

Pasar energi global bergejolak setelah AS umumkan blokade pelabuhan Iran.Foto:Ilusttrasi

fin.co.id – Harga minyak mentah dunia langsung merespons tajam keputusan Amerika Serikat yang akan memulai blokade militer terhadap seluruh pelabuhan di Iran. Pada pembukaan pasar Senin 13 April 2026, nilai kontrak minyak dunia terpantau melonjak signifikan akibat kekhawatiran pasar terhadap pengetatan pasokan energi global.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) atau patokan harga AS melesat 8 persen menjadi 104,24 per barel. Di saat yang sama, Brent sebagai standar harga internasional turut terkerek 7 persen ke angka 102,29 per barel. Padahal, sebelum konflik pecah pada akhir Februari lalu, harga minyak dunia masih bertengger di level 70 per barel.

Dampak Penutupan Jalur Energi Strategis

Komando Pusat AS (CENTCOM) menegaskan bahwa blokade ini berlaku untuk semua kapal dari berbagai negara yang mencoba memasuki atau meninggalkan pelabuhan Iran, baik di kawasan Teluk Persia maupun Teluk Oman. Meski demikian, AS tetap mengizinkan kapal komersial yang melakukan transit antar-pelabuhan non-Iran untuk melewati Selat Hormuz.

Advertisement

Langkah militer ini menjadi krusial mengingat Selat Hormuz merupakan urat nadi energi dunia. Sekitar seperlima dari total perdagangan minyak global setiap harinya melintasi jalur sempit ini. Sejumlah eksportir raksasa seperti Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait sangat bergantung pada stabilitas jalur ini untuk menyuplai pasar dunia.

Risiko Inflasi Global Membayangi

Para pengamat energi memperingatkan bahwa blokade ini akan memberikan tekanan tambahan pada pasar minyak yang sudah dalam kondisi sulit. Chief Economist Rystad Energy, Claudio Galimberti, menilai langkah ini sebagai taktik negosiasi yang keras dari pihak Washington.

"Blokade ini membuat pasar minyak semakin ketat dari sebelumnya. Meskipun ini adalah taktik negosiasi, efek jangka pendeknya adalah beban ekonomi yang berat bagi konsumen dunia," ungkap Galimberti.

Di sisi lain, Jim Krane selaku peneliti energi dari Rice University berpendapat bahwa strategi ini berisiko tinggi bagi ekonomi global. Jika defisit pasokan minyak kembali melonjak, dampaknya akan terasa oleh setiap penduduk bumi melalui kenaikan harga BBM dan biaya logistik.

Pasar kini tengah mencermati sejauh mana blokade ini akan mengganggu arus lalu lintas kapal tanker. Berdasarkan data pelacak maritim, hanya sekitar 40 kapal komersial yang terpantau melintas sejak gencatan senjata dimulai, sebuah angka yang jauh di bawah volume perdagangan normal.

Lina
Lina
Penulis

Penulis FIN.CO.ID