Gencatan Senjata Israel-Hezbollah Berlaku 10 Hari, Trump Undang Kedua Pihak ke Gedung Putih

news.fin.co.id - 17/04/2026, 07:57 WIB

Gencatan Senjata Israel-Hezbollah Berlaku 10 Hari, Trump Undang Kedua Pihak ke Gedung Putih

Warga Beirut bersyukur dimulainya gencatan senjata antara Israel dan milisi Hezbollah di tengah reruntuhan bangunan.Foto:IST/Reuters

fin.co.id – Babak baru diplomasi di Timur Tengah resmi dimulai pada Jumat, 17 April 2026, seiring berlakunya gencatan senjata selama 10 hari antara milisi Hezbollah dan militer Israel. Kesepakatan ini menjadi harapan besar bagi stabilitas kawasan setelah berminggu-minggu didera perang yang menghancurkan infrastruktur dan ekonomi global.

Gema tembakan perayaan terdengar di langit Beirut sesaat setelah tengah malam guna menyambut penghentian sementara baku tembak tersebut. Ribuan keluarga yang sempat mengungsi mulai bergerak kembali menuju wilayah selatan Lebanon dan pinggiran Beirut, meski otoritas setempat telah mengeluarkan peringatan dini terkait ketidakpastian situasi di lapangan.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan kesepakatan ini sebagai langkah besar menuju perdamaian permanen. Namun, secara teknis Israel tidak menandatangani pakta dengan negara Lebanon, melainkan gencatan senjata operasional melawan milisi Hezbollah yang didukung Iran.

Posisi Militer dan Zona Keamanan

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa persetujuan ini bertujuan untuk memajukan upaya perdamaian. Namun, ia memberikan catatan keras bahwa pasukan Israel tidak akan menarik diri dari wilayah yang sudah mereka kuasai.

"Kami tetap berada di sana (selatan Lebanon), dan kami tidak akan pergi," ujar Netanyahu dalam pidato videonya. Israel berencana mempertahankan zona keamanan sejauh 10 kilometer ke dalam wilayah Lebanon untuk mencegah ancaman langsung ke wilayah utara mereka.

Di sisi lain, Hezbollah menegaskan hak mereka untuk melawan pendudukan jika situasi berkembang di luar kesepakatan. Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa Israel tetap memegang hak untuk membela diri terhadap serangan yang direncanakan maupun yang sedang berlangsung, meski berkomitmen untuk tidak melakukan operasi ofensif terhadap target sipil maupun militer Lebanon.

Diplomasi Kilat Gedung Putih

Advertisement

Kesepakatan singkat ini merupakan hasil dari diplomasi maraton yang melibatkan duta besar kedua negara di Washington, serta komunikasi intensif dari Donald Trump dan Sekretaris Negara Marco Rubio. Trump bahkan telah mengundang para pemimpin Israel dan Lebanon ke Gedung Putih untuk melakukan pembicaraan langsung pertama kalinya sejak dekade 1980-an.

"Kedua belah pihak menginginkan perdamaian, dan saya yakin hal itu akan terjadi dengan cepat," tulis Trump melalui platform media sosial resminya.

Peran mediator internasional juga menjadi kunci dalam kesepakatan ini. Seorang pejabat Hezbollah menyebutkan bahwa gencatan senjata ini merupakan hasil negosiasi Iran dengan AS melalui perantara Pakistan. Panglima Angkatan Darat Pakistan dikabarkan telah bertemu dengan Ketua Parlemen Iran guna menekan perpanjangan jeda pertempuran yang telah merenggut ribuan nyawa tersebut.

Dampak Global dan Harapan Pasar

Konflik yang melibatkan Iran, AS, dan Israel ini sebelumnya telah mengguncang pasar energi dunia menyusul gangguan arus minyak di Selat Hormuz. Seiring munculnya kabar gencatan senjata ini, harga minyak dunia mulai menunjukkan tren penurunan, sementara bursa saham AS dilaporkan melampaui rekor tertinggi mereka.

Meskipun progres terlihat nyata, tiga poin krusial masih menjadi ganjalan utama dalam negosiasi jangka panjang: program nuklir Iran, keamanan Selat Hormuz, dan kompensasi atas kerusakan akibat perang. Para mediator kini berpacu dengan waktu sebelum masa berlaku gencatan senjata 10 hari ini berakhir pada pekan depan.

Lina
Lina
Penulis

FIN BIro Jogja