fin.co.id - Pagi itu, di sebuah sudut Kecamatan Masaran, Sragen, aktivitas di Kios Lestari Snack terlihat lebih sibuk dari biasanya. Tumpukan buah segar, mulai dari klengkeng, apel, hingga semangka, tertata rapi, siap dikirim. Di balik kesibukan itu, Endang Sri Lestari (33) tampak sigap mengatur pesanan yang terus berdatangan.
Beberapa tahun lalu, situasinya berbeda. Kios kecil yang ia rintis sejak 2020 berjalan seperti usaha pada umumnya, cukup untuk bertahan, namun belum memberi ruang untuk berkembang pesat. Hingga akhirnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir dan mengubah ritme usahanya.
Kini, setiap pekan Endang menerima pesanan rutin dari dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Sragen. Buah-buahan yang dulu dijual eceran, kini bergerak dalam jumlah besar.
“Dampaknya bagus, ekonomi lumayan naik. Kita dapat pesanannya lumayan,” kata Endang dikutip, Sabtu, 18 April 2026.
Pesanan datang silih berganti. Dalam satu kali order, jeruk bisa mencapai 150 kilogram. Apel dikirim dalam hitungan dus, masing-masing berisi sekitar 100 buah. Bahkan buah naga bisa dipesan hingga 250 kilogram, sementara klengkeng datang dalam belasan krat.
Lonjakan permintaan itu membawa perubahan nyata. Endang yang sebelumnya menjalankan usaha sendiri, kini harus berbagi peran.
“Setelah dapat (orderan) MBG, saya bisa punya dua karyawan. Kadang ada pojokan (bekerja lepas) juga, empat sampai lima orang,” katanya.
Bagi Endang, program ini bukan sekadar tambahan pemasukan, melainkan titik balik. Usaha kecilnya kini menjadi sumber penghidupan bagi orang lain juga.
Ia pun menyampaikan harapannya agar program yang digagas Presiden Prabowo Subianto ini dapat terus berjalan.
“Terima kasih Pak Prabowo, semenjak ada MBG, saya ikut terjun sebagai suplier buah, semoga programnya terus berlanjut,” ucapnya.
Cerita serupa datang dari tempat lain. Di Pasar Gede, Surati (48) sudah lebih dari 30 tahun berjualan nanas. Hari-harinya kini jauh lebih sibuk dibanding sebelumnya.
Pesanan yang ia terima bukan lagi puluhan, melainkan ribuan buah dalam sekali kirim.
“(Dapat pesanan) 2.000 nanas kadang 2.500 nanas,” kata Surati.
Di balik angka-angka itu, ada perubahan yang perlahan terasa. Bagi para pedagang kecil seperti Endang dan Surati, MBG bukan hanya soal program pemerintah, tetapi tentang peluang, harapan, dan ruang untuk tumbuh.
Dari kios sederhana hingga pasar tradisional, denyut ekonomi kecil mulai bergerak lebih cepat. Dan di antara tumpukan buah yang siap dikirim setiap hari, tersimpan cerita tentang usaha yang akhirnya menemukan jalannya.