“Gelombang tsunami dapat datang berulang kali. Jangan meninggalkan tempat aman sampai peringatan dicabut.”
Hal ini penting karena tsunami tidak selalu terjadi dalam satu gelombang, melainkan bisa berulang dengan kekuatan berbeda.
Di tingkat nasional, kantor Perdana Menteri Jepang langsung membentuk tim manajemen krisis.
Langkah ini bertujuan untuk:
-
Mengoordinasikan evakuasi
-
Memantau perkembangan gelombang
-
Mengantisipasi dampak lanjutan
Respons cepat ini menjadi bagian dari sistem mitigasi bencana Jepang yang dikenal sangat disiplin dan terstruktur.
Sebagai negara yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik, Jepang memang sangat rentan terhadap gempa bumi dan tsunami.
Wilayah ini berada di pertemuan empat lempeng tektonik utama, menjadikannya salah satu zona seismik paling aktif di dunia.
Dengan populasi sekitar 125 juta jiwa, Jepang mengalami sekitar:
-
1.500 gempa setiap tahun
-
Sekitar 18 persen gempa dunia terjadi di wilayah ini
Sebagian besar gempa memang kecil, namun potensi gempa besar tetap menjadi ancaman serius.
Peristiwa ini kembali mengingatkan dunia pada tragedi besar yang pernah terjadi di Jepang pada 2011.
Saat itu, gempa magnitudo 9,0 memicu tsunami dahsyat yang:
-
Menewaskan sekitar 18.500 orang
-
Menghancurkan wilayah pesisir
-
Memicu krisis nuklir di Fukushima
Peristiwa tersebut menjadi salah satu bencana terbesar dalam sejarah modern Jepang.