• Mi - Re - Mi - Fa - Sol - Mi (Pu-tri-yang-mu-li-a)
• Fa - Mi - Fa - La - Sol - La - Sol - Mi - Do (Sung-guh-be-sar-ci-ta-ci-ta-nya)
• Mi - Re - Fa - Si. - Re - Do (Ba-gi-In-do-ne-sia)
WR Supratman dan Kongres Wanita 1928
Karya monumental ini lahir dari mata tajam seorang wartawan sekaligus komposer handal, WR Supratman.
Inspirasi lagu ini muncul saat ia meliput Kongres Wanita Indonesia I di Yogyakarta pada akhir Desember 1928.
Di tengah hiruk-pikuk perjuangan kemerdekaan, Supratman merasa perlu mengabadikan pemikiran-pemikiran revolusioner Kartini ke dalam sebuah harmoni yang bisa dinyanyikan oleh seluruh generasi.
Lagu ini akhirnya menjadi instrumen penggerak semangat emansipasi yang kuat hingga saat ini.
Lagu "Ibu Kita Kartini" memiliki makna yang sangat mendalam terkait eksistensi perempuan.
Tanpa gerakan intelektual yang dirintis oleh Kartini, akses terhadap pendidikan dan peluang karier bagi wanita Indonesia mungkin tidak akan setara seperti sekarang.
Lagu ini melambangkan transisi dari keterbatasan tradisi menuju kebebasan berpikir yang mulia.
Penetapan tanggal 21 April sebagai hari besar nasional dilakukan sejak era Presiden Soekarno.
Hal ini bertujuan agar bangsa Indonesia selalu ingat bahwa kemerdekaan bukan hanya soal mengangkat senjata, tetapi juga soal memerdekakan pikiran.
Hari lahir Kartini dipilih untuk merayakan keberanian seorang wanita yang melalui surat-suratnya, mampu mengguncang dunia dan membakar semangat para pejuang perempuan lainnya.