fin.co.id - Melalui kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia, Indonesia berhasil mendapatkan komitmen pasokan minyak mentah hingga 150 juta barel dengan harga khusus dari pemerintah Rusia.
Kabar ini disampaikan oleh Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Lingkungan, Hashim Djojohadikusumo, yang menyebut bahwa pasokan tersebut akan disimpan sebagai cadangan strategis nasional untuk menghadapi gejolak ekonomi global.
“Indonesia sekarang sudah ada komitmen dari pemerintah Rusia, 150 juta barel kita bisa simpan di Indonesia untuk menghadapi masalah-masalah gejolak ekonomi,” ujar Hashim.
Dalam pertemuan bilateral antara Presiden Prabowo dan Presiden Rusia Vladimir Putin, Rusia awalnya menyetujui pengiriman 100 juta barel minyak mentah ke Indonesia.
Namun, jika kebutuhan energi nasional meningkat, Rusia siap menambah pasokan hingga 50 juta barel lagi. Artinya, total potensi impor bisa mencapai 150 juta barel—angka yang cukup besar untuk memperkuat cadangan energi Indonesia.
Langkah ini dinilai penting di tengah ketidakpastian global, terutama akibat konflik geopolitik yang memengaruhi pasokan energi dunia.
Krisis energi global saat ini dipicu oleh konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang berdampak pada distribusi minyak dunia. Kondisi ini membuat banyak negara, termasuk Indonesia, mulai mencari sumber energi alternatif.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, sebelumnya juga telah menyampaikan bahwa Indonesia tengah mengupayakan impor minyak mentah dari Rusia mulai April 2026.
Selain minyak mentah, pemerintah juga sedang membahas kemungkinan impor LPG dari Rusia. Namun, besaran volumenya masih dalam tahap finalisasi.
“Jadi, harus ada diversifikasi. Insyaallah crude kita akan semakin membaik,” ujar Bahlil.
Langkah impor minyak dari Rusia bukan sekadar transaksi ekonomi, tetapi bagian dari strategi besar pemerintah untuk menjaga ketahanan energi nasional.
Diversifikasi sumber energi menjadi kunci agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada satu negara atau kawasan tertentu. Dengan adanya cadangan minyak dalam jumlah besar, pemerintah berharap mampu menjaga stabilitas harga energi di dalam negeri.
Selain itu, cadangan ini juga bisa menjadi “tameng” jika terjadi gangguan pasokan global di masa depan.
Meski menawarkan banyak keuntungan, kebijakan ini juga memiliki tantangan. Mulai dari aspek logistik penyimpanan, pengelolaan cadangan energi, hingga dinamika politik internasional.