fin.co.id – Pemerintah Israel akhirnya mendeportasi seluruh aktivis asing yang sempat mereka tahan dari iring-iringan armada kapal menuju Gaza pada Kamis, 21 Mei 2026.
Langkah pemulangan paksa ini bergulir setelah gelombang kecaman global beruntun menyerang Israel terkait perlakuan buruk dan kekerasan yang menimpa para relawan kemanusiaan di dalam tahanan.
Sebelumnya, pasukan militer Israel mencegat konvoi laut tersebut pada hari Senin. Aparat kemudian menahan lebih dari 430 aktivis dari berbagai penjuru dunia yang berupaya menembus blokade ketat di wilayah Palestina tersebut.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Oren Marmorstein, menegaskan sikap sepihak negaranya terkait insiden pencegatan ini.
"All aktivis asing dari armada PR telah dideportasi dari Israel. Israel tidak akan mengizinkan pelanggaran apa pun terhadap blokade angkatan laut yang sah di Gaza," kata Oren Marmorstein.
Video Provokatif Menteri Israel Pemicu Kemarahan Dunia
Ketegangan diplomatik memuncak setelah Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Israel, Itamar Ben Gvir, mengunggah sebuah video kontroversial pada hari Rabu. Rekaman tersebut memperlihatkan kondisi para aktivis kemanusiaan yang terikat tangannya dengan dahi menempel di tanah.
Ben Gvir menyertakan keterangan "Selamat Datang di Israel" dalam unggahan tersebut. Ia juga tampak mencemooh para tahanan sambil mengibarkan bendera Israel. Aksi provokasi ini langsung memicu reaksi keras dari jajaran pemerintah dunia, mulai dari Italia, Spanyol, Australia, hingga Kanada.
Bahkan, tindakan Ben Gvir memicu kritik internal dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Menteri Luar Negeri Gideon Saar, hingga Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee. Akibat insiden ini, Inggris langsung memanggil diplomat senior Israel. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, mendesak Uni Eropa untuk menjatuhkan sanksi kepada Ben Gvir.
Pakar PBB untuk wilayah Palestina, Francesca Albanese, ikut menyuarakan kritik tajamnya melalui media sosial X.
“Perlakuan terhadap para aktivis armada kapal adalah kemewahan dibandingkan dengan apa yang dialami warga Palestina di penjara-penjara Israel. Kata-kata tidak cukup: biarkan Italia berhenti menentang penangguhan Perjanjian Asosiasi Uni Eropa-Israel,” tulis Francesca Albanese.
Pemulangan Massal Lewat Jalur Udara dan Perbatasan Darat
Lembaga hukum Adalah mengonfirmasi bahwa para aktivis sebelumnya mendekam di penjara Ktziot yang berada di Gurun Negev, dekat Gaza. Sebagian besar anggota kelompok tersebut kemudian menjalani proses pemulangan melalui Bandara Ramon di ujung selatan Israel.
Menyikapi situasi ini, pemerintah Turki langsung mengirimkan bantuan transportasi udara secara masif ke Bandara Ramon.
Sumber Kementerian Luar Negeri mengatakan "tiga penerbangan" dengan kapasitas "lebih dari 400 penumpang" sedang dikirim ke bandara Ramon demi membawa pulang warga negara mereka serta peserta dari negara ketiga melalui penerbangan charter khusus.