Nasional . 08/06/2026, 22:07 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
fin.co.id - Pemerintah mulai melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan ibadah haji 2026. Sejumlah catatan penting yang dihimpun Tim Amirul Hajj selama mendampingi jemaah Indonesia di Arab Saudi akan menjadi bahan perbaikan untuk pelaksanaan haji tahun mendatang.
Beberapa aspek yang mendapat perhatian khusus antara lain layanan jemaah di Mina, sistem transportasi selama fase puncak haji, kualitas akomodasi di Makkah, hingga kesiapan petugas dan layanan kesehatan.
Menteri Haji dan Umrah RI, Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan mengatakan, rekomendasi tersebut disusun berdasarkan hasil pemantauan langsung di lapangan selama operasional haji berlangsung.
"Beberapa rekomendasi yang disampaikan oleh tim dari Amirul Hajj adalah pertama peningkatan layanan di Mina," ujar Gus Irfan saat memimpin kepulangan Tim Amirul Hajj di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Senin, 8 Juni 2026.
Menurutnya, Mina masih menjadi titik paling menantang dalam penyelenggaraan haji karena keterbatasan area yang harus menampung jutaan jemaah dari berbagai negara. Dibandingkan Arafah yang memiliki wilayah lebih luas, kapasitas Mina jauh lebih terbatas karena sebagian areanya berupa pegunungan.
Kondisi tersebut menyebabkan kepadatan yang sangat tinggi saat puncak ibadah berlangsung.
"Seluruh jamaah dari seluruh dunia bertumpuk di Mina. Ada pemampatan dari jumlah jamaah karena luas kawasan yang terbatas," kata Gus Irfan.
Selain persoalan di Mina, aspek transportasi selama rangkaian Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) juga menjadi bahan evaluasi. Tim Amirul Hajj mencatat masih terdapat sejumlah keterlambatan dalam pergerakan jemaah, meski secara umum proses pemindahan berlangsung sesuai target.
Pemerintah menilai keberhasilan mengosongkan kawasan Muzdalifah pada pagi hari menjadi salah satu indikator positif dalam pengelolaan transportasi tahun ini.
"Terakhir Muzdalifah itu jam 7 pagi sudah bersih semua sudah bergeser ke Mina sehingga tidak ada yang harus berpanas-panas di Muzdalifah," ujarnya.
Catatan lainnya berkaitan dengan layanan bus Sholawat yang menghubungkan hotel jemaah dengan Masjidil Haram. Penghentian sementara layanan tersebut setelah fase Armuzna dinilai berdampak pada aktivitas ibadah jemaah, khususnya mereka yang ingin segera menunaikan tawaf Ifadah.
Gus Irfan berharap ke depan layanan transportasi tersebut dapat kembali beroperasi lebih cepat setelah puncak haji selesai.
"Kita berharap nanti bisa lebih cepat pembukaan kembali karena banyak jamaah selesai dari Armuzna ingin tawaf Ifadah," katanya.
Di sektor akomodasi, Tim Amirul Hajj merekomendasikan agar penempatan hotel jemaah Indonesia di Makkah pada musim haji berikutnya dapat lebih dekat dengan Masjidil Haram. Upaya itu dinilai penting untuk meningkatkan kenyamanan jemaah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap transportasi bus.
Evaluasi juga menyentuh aspek konsumsi. Pemerintah didorong untuk memperbesar penggunaan produk dalam negeri dalam penyediaan makanan bagi jemaah. Namun, implementasinya masih menghadapi tantangan akibat kondisi geopolitik dan distribusi logistik di kawasan Timur Tengah.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media