fin.co.id - Konflik di Timur Tengah kembali membara setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) meluncurkan serangan fajar ke berbagai markas militer Amerika Serikat (AS).
Teheran menghujani pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain dengan drone dan rudal pada Rabu (10 Juni). Aksi ini merupakan aksi balasan langsung atas serangan udara Washington di dekat kawasan strategis Selat Hormuz.
Eskalasi besar ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Iran telah menembak jatuh helikopter Apache milik Amerika Serikat di sekitar selat tersebut. Peristiwa ini menjadi salah satu bentrokan paling serius sejak kedua belah pihak menyepakati gencatan senjata pada April lalu.
Ketegangan Selat Hormuz: Trump Janjikan Balasan Dahsyat
Sebelum Iran melancarkan serangan balasan, Donald Trump sempat menegaskan sikap kerasnya terkait jatuhnya helikopter militer mereka.
"Saya percaya tanggapannya harus sangat kuat, sangat dahsyat, dan itulah yang terjadi," ujar Trump kepada ABC News pada Selasa, 9 Juni 2026.
Militer AS mengklaim serangan mereka menyasar sistem pertahanan udara, stasiun kendali darat, dan situs radar pengawasan Iran. Washington menyebut operasi selama empat jam ini sebagai "tanggapan proporsional" setelah drone Iran menjatuhkan helikopter Apache yang membawa dua awak.
Komando Pusat AS mengonfirmasi bahwa operasi tersebut berakhir sebelum pukul 9 malam ET (Rabu, 9 pagi waktu Singapura) dan berhasil menghantam hampir 20 target di wilayah Iran.
Menurut laporan IRGC, serangan Amerika Serikat tersebut menyasar wilayah Pulau Qeshm dan kota pelabuhan Sirik. Media lokal Iran juga melaporkan adanya ledakan hebat di kota pelabuhan Bandar Abbas serta di dekat kawasan Jask yang menjadi pintu masuk Selat Hormuz.
Rudal Jarak Jauh Iran Targetkan Markas Jet Tempur F-35
Sebagai jawaban atas agresi tersebut, IRGC bergerak cepat menargetkan instalasi militer AS di tiga negara sekutu Amerika. Pihak Iran mengaku telah menembakkan rudal jarak jauh ke empat lokasi vital di Pangkalan Udara Al-Azraq, Yordania.
Lokasi ini mencakup hanggar jet tempur canggih F-35 serta pusat komando dan kendali militer. IRGC bahkan memperingatkan bahwa mereka siap memberikan respons yang lebih menghancurkan jika AS kembali bertindak.
Meski demikian, seorang pejabat AS yang enggan menyebutkan namanya menyatakan bahwa sistem pertahanan mereka berhasil menangkal sebagian besar serangan udara tersebut. Pihak Pentagon belum memberikan komentar resmi, namun sejauh ini tidak ada laporan mengenai korban jiwa atau kerusakan besar pada fasilitas Amerika.
Sistem pertahanan di negara-negara Teluk langsung siaga penuh menghadapi serangan ini:
- Yordania: Militer Yordania berhasil menembak jatuh lima rudal Iran yang mengarah ke Al-Azraq tanpa ada laporan korban cedera akibat puing yang jatuh.
- Kuwait: Kementerian Pertahanan Kuwait mengonfirmasi pencegatan target udara musuh di wilayah pangkalan udara utama mereka.
- Bahrain: Markas besar armada regional Angkatan Laut AS ini juga berhasil menghalau serangan lewat pertahanan udara mereka.