Nasional . 17/06/2026, 22:06 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
"Akan tetapi saat ini anggaran 20 persen tersebut direbut untuk MBG," tegasnya.
Ia berpendapat, kebijakan pengalihan anggaran ini berpotensi menimbulkan efek domino yang merugikan dunia pendidikan secara keseluruhan.
Salah satu dampak yang paling dikhawatirkan adalah menurunnya daya tarik profesi guru di masa depan.
Bayangkan saja, calon pendidik masa depan melihat guru-guru mereka berjuang dengan kesejahteraan yang tidak memadai.
Tentu saja, hal ini akan membuat banyak talenta terbaik enggan melirik jalur profesi yang mulia ini.
Yang lebih menyentuh hati, suara datang dari seorang pelajar.
Muhammad Rafif Arsya, seorang siswa SMK NU Miftahul Falah Kudus, turut memberikan keterangan tertulis yang mengejutkan kepada majelis hakim.
Arsya bukanlah sosok sembarangan; ia adalah pelajar yang sebelumnya pernah mengirimkan surat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto.
Dalam suratnya, Arsya dengan berani meminta agar jatah program MBG miliknya dialihkan untuk meningkatkan kesejahteraan guru.
Ia melihat langsung bagaimana sebagian besar guru di daerahnya masih berjuang keras memenuhi kebutuhan hidup.
"Di daerah saya masih ada guru yang mendapat honor antara Rp400 ribu hingga Rp700 ribu per bulan," ungkap Arsya dalam keterangannya.
Angka ini sungguh memprihatinkan!
Ini jelas menunjukkan bahwa kebutuhan mendasar para pendidik kita, yang notabene berperan penting dalam mencerdaskan anak bangsa, belum terpenuhi secara optimal.
Arsya berharap, pemerintah dapat lebih memprioritaskan peningkatan kesejahteraan guru.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media