Internasional . 19/06/2026, 22:49 WIB
Penulis : Esnoe Faqih Wardhana | Editor : Esnoe Faqih Wardhana
fin.co.id - Lalu lintas kapal komersial di kawasan Selat Hormuz langsung melonjak tajam ke level tertinggi sejak awal Juni ini. Jalur perairan paling strategis di dunia tersebut mendadak ramai setelah 25 armada kapal melintas secara bergantian pada Kamis, 18 Juni 2026.
Geliat maritim ini terjadi sebagai dampak positif atas pemberlakuan nota kesepahaman terbaru antara pihak Amerika Serikat dan Iran yang sepakat membuka kembali selat serta mengakhiri blokade laut.
Sebelumnya, Teheran dan Washington sukses menyepakati perjanjian 14 poin pada tanggal 14 Juni melalui proses negosiasi panjang yang mendapatkan mediasi dari Pakistan.
Dokumen bersejarah yang mengusung nama Memorandum Islamabad tersebut resmi berlaku pada 18 Juni kemarin setelah Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dan Presiden AS, Donald Trump, membubuhkan tanda tangan mereka secara digital.
Perjanjian damai ini memuat ketentuan penting untuk menghentikan perang, termasuk menghentikan konflik di Lebanon, memulihkan akses Selat Hormuz, serta mencabut total blokade maritim yang sempat AS berlakukan terhadap Iran.
Jalur Selat Hormuz sendiri sempat menjadi kecemasan pasar global karena arus lalu lintas komersial melambat sangat tajam pasca-serangan AS-Israel terhadap Iran yang pecah sejak 28 Februari lalu.
Berdasarkan data akurat yang dihimpun oleh Anadolu dari perusahaan analitik ternama Kpler dan MarineTraffic, sebanyak 25 kapal tangguh yang mengangkut komoditas LNG, minyak mentah, produk minyak, pupuk, muatan curah kering, hingga kontainer sukses mengarungi Selat Hormuz pada hari Kamis. Petugas mengonfirmasi bahwa sembilan kapal di antaranya berlayar dalam kondisi membawa muatan penuh.
Bahkan, empat kapal tanker raksasa yang melintas tercatat membawa sedikitnya delapan juta barel minyak mentah sekaligus melalui selat sempit tersebut.
Berikut rincian pergerakan kapal kargo dan tanker raksasa yang berhasil tercatat:
Untuk melihat seberapa besar lonjakan yang terjadi, data dari MarineTraffic menunjukkan grafik yang sangat kontras pada hari-hari sebelum kesepakatan berlaku.
Tercatat hanya ada 12 kapal komersial yang berani melintas pada 14 Juni, disusul 10 kapal pada 15 Juni, 14 kapal pada 16 Juni, dan menyusut hingga menyisakan tujuh kapal saja pada 17 Juni.
Sejak perang dimulai pada 28 Februari, banyak kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz tercatat berada di bawah sanksi atau diidentifikasi sebagai bagian dari apa yang disebut armada bayangan (shadow fleet).
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media