Internasional . 27/06/2026, 18:20 WIB
Penulis : Derry Sutardi | Editor : Derry Sutardi
Meski demikian, perang yang terus berlangsung juga membawa tekanan besar bagi Rusia.
Selain korban jiwa yang terus bertambah, negara tersebut masih menghadapi berbagai sanksi ekonomi dari negara-negara Barat.
Kondisi tersebut dinilai dapat memperbesar rasa frustrasi di sebagian kalangan militer maupun masyarakat.
Jika konflik terus berlangsung tanpa hasil yang jelas, berbagai bentuk kritik dari internal diperkirakan akan semakin sering muncul.
Namun hingga kini belum terdapat bukti bahwa ancaman yang disampaikan Lunin mendapat dukungan terorganisasi dari pimpinan militer Rusia.
Sejak awal invasi, Kremlin menegaskan operasi militer dilakukan demi menjaga kepentingan keamanan nasional Rusia.
Pemerintah Rusia juga berulang kali menyatakan ingin mencegah perluasan pengaruh NATO di kawasan yang dianggap strategis bagi Moskow.
Selain itu, Rusia tetap mempertahankan klaim atas sejumlah wilayah Ukraina yang telah dianeksasi, meskipun langkah tersebut tidak diakui oleh sebagian besar negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Presiden Vladimir Putin juga berkali-kali menyatakan terbuka terhadap penyelesaian diplomatik.
Namun Kremlin menegaskan setiap proses perdamaian harus mengakui "realitas di lapangan", termasuk perubahan wilayah yang terjadi selama perang.
Syarat tersebut hingga kini tetap ditolak oleh Ukraina yang bersikeras mempertahankan seluruh wilayah kedaulatannya.
Perbedaan posisi kedua negara membuat berbagai upaya negosiasi belum membuahkan hasil.
Ancaman terhadap Vladimir Putin sebenarnya bukan kali pertama terjadi.
Pada Juni 2023, kelompok tentara bayaran Wagner yang dipimpin Yevgeny Prigozhin sempat melakukan pemberontakan bersenjata.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media