Internasional . 20/08/2026, 09:16 WIB
Penulis : Afdal Namakule | Editor : Afdal Namakule
fin.co.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali meningkatkan tekanan terhadap Iran. Kali ini, Trump mengumumkan rencana melancarkan operasi ekonomi yang disebutnya sebagai yang paling dahsyat dan belum pernah diterapkan terhadap negara mana pun.
Trump menyampaikan ancaman tersebut melalui unggahan di media sosial pada Kamis, 20 Agustus 2026. Ia menilai Iran telah menyia-nyiakan peluang untuk mencapai kesepakatan dengan pemerintahannya.
"Karena itu, hari ini saya mengumumkan OPERASI EKONOMI PALING MENGHANCURKAN YANG PERNAH DILAKUKAN TERHADAP NEGARA MANA PUN! Ini akan menjadi Perang Ekonomi dan Isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya," kata Trump, dikutip dari Bloomberg.
Trump belum mengungkap secara detail bentuk kebijakan ekonomi yang akan diterapkan. Namun, ancamannya tidak hanya ditujukan kepada Iran.
Negara-negara yang membantu aktivitas ekonomi Iran juga berpotensi terkena dampak. Trump memperingatkan pihak-pihak yang memberikan dukungan melalui sektor keuangan, perusahaan, bandara maupun lembaga pemerintahan.
Negara Pendukung Iran Bakal Kena Konsekuensi
Trump menegaskan bahwa kampanye tekanan ekonomi akan diperluas kepada negara-negara yang masih menjalin hubungan perdagangan atau memberikan bantuan kepada Iran.
Ia memperingatkan negara mana pun yang memungkinkan institusi atau badan di wilayahnya memberikan dukungan terhadap Teheran.
"Setiap negara yang mengizinkan lembaga keuangan, perusahaan, bandara, atau entitas pemerintahnya memberikan segala jenis bantuan kepada Iran akan menghadapi KONSEKUENSI EKONOMI YANG SANGAT BESAR," ujar Trump.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa strategi Washington berpotensi menyasar lebih luas dari sekadar perekonomian Iran. Pihak yang dianggap membuka akses bantuan bagi Teheran juga dapat menjadi sasaran tekanan ekonomi AS.
Trump menyebut kebijakan itu sebagai bagian dari upaya mengisolasi Iran secara ekonomi setelah dirinya menilai Teheran gagal menggunakan kesempatan yang diberikan untuk mencapai kesepakatan dengan Washington.
Ekonomi Iran Sudah Tertekan Perang dan Sanksi
Tekanan baru tersebut datang ketika kondisi ekonomi Iran telah terdampak berat akibat konflik dan berbagai sanksi.
Kapasitas industri Iran dilaporkan mengalami kerusakan besar. Sementara itu, ekspor minyak mentah negara tersebut menurun tajam setelah adanya blokade yang dilakukan AS.
Iran juga telah menghadapi sejumlah gelombang sanksi ekonomi. Namun, tekanan tersebut sejauh ini belum membuat Teheran mengubah sikap terkait program nuklirnya maupun menyerahkan kendali atas Selat Hormuz.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media