Nasional . 02/09/2026, 07:46 WIB
Penulis : Afdal Namakule | Editor : Afdal Namakule
Akibatnya, Bulan dapat terbit pada waktu yang hampir sama selama beberapa malam berturut-turut. Kondisi tersebut memberikan tambahan cahaya setelah Matahari terbenam.
Pada masa lalu, cahaya tambahan tersebut membantu petani memiliki waktu lebih panjang untuk memanen hasil pertanian. Dari situlah istilah Harvest Moon kemudian dikenal.
6. Rasi Cassiopeia Makin Mudah Ditemukan
Bukan hanya Bulan dan planet yang menarik diamati. Rasi bintang Cassiopeia juga menjadi salah satu objek yang bisa dicari di langit September.
Cassiopeia mudah dikenali karena susunan bintangnya membentuk pola menyerupai huruf W atau M.
Rasi ini bersifat sirkumpolar jika diamati dari wilayah utara sekitar 34 derajat lintang utara. Artinya, Cassiopeia tidak pernah benar-benar terbenam di bawah cakrawala dari wilayah tersebut.
Karena bentuknya mudah dikenali, Cassiopeia dapat digunakan sebagai salah satu titik acuan untuk menemukan rasi bintang lain yang lebih sulit dilihat, termasuk kawasan Bima Sakti.
7. Peluang Aurora Meningkat di Sekitar Ekuinoks
September juga menjadi periode yang menarik bagi pemburu aurora.
Kemunculan aurora borealis di utara dan aurora australis di selatan dipengaruhi antara lain oleh Efek Russell-McPherron dan efek ekuinoks.
Efek Russell-McPherron berkaitan dengan posisi medan magnet Bumi dan Matahari. Ketika keduanya berada dalam konfigurasi tertentu, partikel bermuatan dari Matahari lebih mudah berinteraksi dengan magnetosfer Bumi.
Sementara efek ekuinoks membuat orientasi kutub magnet Bumi terhadap aliran angin Matahari berada pada kondisi yang mendukung masuknya partikel bermuatan.
Gabungan kedua kondisi tersebut dapat meningkatkan peluang munculnya aurora yang lebih sering dan lebih terang.
Namun, aurora bukan fenomena yang bisa disaksikan dari seluruh dunia. Peluang terbaik tetap berada di wilayah lintang tinggi dekat kutub.
Catat Tanggalnya:
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media