Politik . 25/09/2026, 16:23 WIB

Pileg Dulu, Pilpres Kemudian, Wacana Uji Kekuatan Partai Tanpa Efek Ekor Jas

Penulis : Mihardi  |  Editor : Mihardi

Arifki mengatakan perdebatan mengenai desain pemilu seharusnya tidak hanya berfokus pada pilihan antara memisahkan atau menyatukan Pileg dan Pilpres. Menurut dia, tujuan perubahan desain pemilu juga perlu diperjelas.

“Yang lebih penting adalah apa yang ingin kita capai dari desain tersebut. Kalau tujuannya membuat kekuatan partai dan kekuatan kandidat Presiden lebih independen, maka pemisahan punya konsekuensi yang signifikan. Tetapi konsekuensi terhadap sistem presidensial dan putusan MK juga harus dijawab,” katanya.

Ia menilai gagasan Pileg lebih dahulu tetap dapat menjadi bahan diskusi, terutama jika tujuan yang ingin dicapai adalah menguji kekuatan partai secara lebih mandiri dari popularitas kandidat presiden.

“Jadi ini bukan cuma soal Pileg dulu atau Pilpres dulu. Ini soal apakah suara partai dan suara Presiden ingin dibiarkan saling mengerek dalam satu momentum, atau diuji lebih mandiri. Kalau ingin mengubah desainnya, silakan diperdebatkan secara terbuka, tetapi jangan lupa: ada konstruksi konstitusional dan putusan MK yang harus dijelaskan,” pungkasnya.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com