Politik . 08/11/2026, 19:01 WIB
Penulis : Esnoe Faqih Wardhana | Editor : Esnoe Faqih Wardhana
Ia mencontohkan kader yang mendampingi warga menghadapi persoalan kehidupan, memberikan bantuan, hingga hadir ketika masyarakat mengalami kesulitan. Berbagai aktivitas tersebut bisa luput dari perhatian publik jika tidak disebarluaskan melalui kanal informasi yang mampu menjangkau masyarakat luas.
Sebaliknya, kegiatan yang relatif kecil justru bisa mendapatkan perhatian besar ketika dikemas dan disebarkan secara masif melalui media digital.
“Makanya kerja yang sedikit-sedikit bisa mengalahkan kerja yang kita lakukan secara maksimal,” ujar Sarmuji.
Karena itu, ia meminta Golkar memperhatikan dua aspek sekaligus, yakni kinerja faktual dan kinerja persepsi. Kinerja faktual terlihat dari kehadiran serta pendampingan kader dalam kehidupan masyarakat. Adapun kinerja persepsi dibangun dengan menyampaikan berbagai kerja nyata tersebut secara tepat kepada publik.
“Kita melakukan ini bukan untuk membuat sesuatu yang tidak baik menjadi baik. Tidak. Tapi mengabarkan hal yang baik sehingga bisa dipahami masyarakat bahwa itu hal yang baik. Bukan dengan melakukan pansos atau panjat sosial,” katanya.
Tantangan lain muncul dari perkembangan algoritma digital yang membuat masyarakat menerima informasi berdasarkan preferensi dan kebiasaan masing-masing. Kondisi ini menuntut partai politik memastikan informasi yang benar dapat menjangkau publik.
Sarmuji bahkan mengingatkan adanya kemungkinan perubahan besar dalam politik akibat perkembangan teknologi. Ia mencontohkan fenomena penggalangan suara melalui ruang digital yang menurutnya telah terlihat di Nepal.
“Kalau itu bisa terjadi di Nepal, itu pasti bisa terjadi juga di Indonesia. Dan arah ke sana, indikasinya sudah makin lama makin terasa,” ujarnya.
Ia memperingatkan bahwa kegagalan membangun ekosistem digital bisa mengancam keberlanjutan partai dalam jangka panjang. Partai yang saat ini merasa belum membutuhkan infrastruktur digital berisiko tertinggal dalam lima hingga 10 tahun mendatang.
“Kalau kita tidak masuk dalam ekosistem digital, hari ini mungkin kita merasa belum terlalu perlu. Tapi lima sampai 10 tahun ke depan, sudah pasti kalau kita tidak membangun jembatan itu, kita terputus terhadap masa depan kita,” katanya.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media