Pengulas acara dari Radio Televisyen Malaysia (RTM) stasiun penyiaran publik milik pemerintah Malaysia — terselip lidah saat menyebut nama Presiden RI.
Alih-alih menyebut Presiden Prabowo Subianto, komentator RTM malah menyebut nama Presiden Joko Widodo, pendahulu Prabowo di pemerintahan sebelumnya.
Kesalahan ini terjadi saat RTM menyiarkan momen kedatangan para pemimpin ASEAN ke lokasi KTT. Tak hanya Indonesia yang terkena dampak, pemimpin dari Singapura dan Thailand juga sempat disebut dengan nama yang keliru oleh penyiar yang sama.
Menlu Sugiono menjelaskan bahwa Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI langsung menyampaikan klarifikasi dan pemberitahuan resmi kepada pihak Malaysia.
“Kami sampaikan kepada pihak Malaysia bahwa telah terjadi penyebutan nama presiden yang keliru. Namun, Indonesia bukan satu-satunya yang mengalami hal serupa,” jelas Sugiono.
Pihak RTM Malaysia pun mengakui kesalahannya dan telah mengirim surat permintaan maaf tertulis kepada delegasi Indonesia, Singapura, dan Thailand atas kekeliruan yang terjadi dalam siaran langsung tersebut.
Meskipun Presiden Prabowo kembali lebih awal, delegasi Indonesia tetap aktif mengikuti seluruh agenda KTT ASEAN, termasuk pertemuan ekonomi, politik, dan sosial budaya.
Menlu Sugiono memastikan bahwa posisi Indonesia tetap strategis dalam pembahasan berbagai isu kawasan, seperti ketahanan pangan, keamanan regional, hingga kerja sama ekonomi digital ASEAN.
“Kehadiran fisik Presiden memang penting, tapi substansi pertemuan tetap kami jaga. Indonesia tetap memainkan peran aktif dan konstruktif di KTT kali ini,” tegas Menlu Sugiono.
Keputusan Presiden Prabowo untuk kembali lebih awal justru menunjukkan fleksibilitas diplomasi Indonesia di forum internasional.
Pemerintah tampak telah menyiapkan mekanisme delegasi yang solid, memastikan kepentingan nasional tetap terwakili meski kepala negara tidak hadir di seluruh rangkaian acara.
Dari sisi diplomasi, langkah Menlu Sugiono dan jajaran menteri yang tetap bertahan di Kuala Lumpur memperlihatkan bahwa Indonesia tetap menjaga citra stabil dan profesional di mata ASEAN.