Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri kini turut melakukan penyelidikan untuk memastikan apakah ada unsur terorisme di balik kejadian tersebut.
“Hingga saat ini, Densus 88 masih melakukan pendalaman apakah insiden tersebut terdapat unsur terorisme atau tidak,” ujar Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri, AKBP Mayndra Eka Wardhana.
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan seluruh biaya pengobatan korban ditanggung oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
“Seluruh biaya pengobatan akan ditanggung oleh Pemprov, di mana saja rumah sakitnya,” kata Pram.
Pihak sekolah juga menghentikan sementara kegiatan belajar-mengajar hingga situasi dinyatakan aman. Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan dan keamanan di lingkungan pendidikan, sekaligus perhatian terhadap kondisi psikologis siswa yang berpotensi menjadi korban perundungan.
Prioritas Penanganan Korban
Presiden Prabowo Subianto memerintahkan agar penanganan korban menjadi prioritas utama.
“Beliau tadi pertama bereaksi untuk prioritas ke korban, penanganan korban,” ungkap Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi di Istana Merdeka.
Prasetyo menambahkan, Presiden juga menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap hal-hal mencurigakan di lingkungan rumah maupun sekolah.
“Jika ada hal-hal yang dirasa mencurigakan atau ada hal-hal yang mungkin berpotensi untuk hal-hal yang tidak baik, untuk kita semakin peduli baik di lingkungan rumah maupun di lingkungan sekolah,” ujarnya.
Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Margaret Aliyatul Maimunah, menegaskan seluruh siswa di SMA Negeri 72 Jakarta membutuhkan pendampingan psikologis pasca-insiden.
“Semua anak, baik mengalami luka atau tidak, yang mendengar atau menyaksikan kejadian pasti membutuhkan pendampingan,” katanya.
Rangkuman Fakta Ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta:
1. Ledakan terjadi saat Shalat Jumat di area mushala sekolah.