Ia dikenal sebagai penulis lintas bidang sekaligus pencipta genre puisi esai.
Sebuah bentuk sastra yang menyatukan riset sosial, empati kemanusiaan, dan keindahan bahasa.
Genre ini tidak hanya tumbuh dan berakar di Indonesia.
Ia melintasi batas negara.
Melahirkan Festival Puisi Esai ASEAN, yang pada tahun ini memasuki penyelenggaraan kelima di Malaysia.
Banyak sastrawan menerima penghargaan.
Namun sejarah mencatat, sangat sedikit yang melahirkan genre baru dalam sastra.
Dalam konteks itulah, keputusan Denny JA setelah menerima BRICS Award 2025 menjadi penting secara moral.
Ia menyatakan bahwa seluruh dana penghargaan tersebut didonasikan sepenuhnya untuk pengembangan sastra dunia, dan disalurkan melalui Denny JA Foundation.
Bukan untuk menambah kekayaan.
Bukan untuk simbol pribadi.
Melainkan untuk memastikan sastra terus hidup.
Terus bereksperimen.
Dan terus berpihak pada kemanusiaan.
Karena agenda internasionalnya di World Economic Forum, Denny JA tidak hadir langsung di Kairo.