Ia diwakili oleh Sastri Bakry, Koordinator Sastra BRICS Indonesia, yang membacakan pidato penerimaan penghargaan atas namanya.
Dalam pidato itu, Denny JA menyampaikan refleksi yang menggema di ruang peradaban kuno tersebut.
Berbicara di Mesir berarti berbicara di rahim peradaban manusia.
Jauh sebelum dunia modern belajar mengatur kekuasaan, Mesir telah mengajarkan umat manusia cara mengatur makna.
Di Mesir, waktu pertama kali diukur dengan kesadaran.
Tulisan lahir bukan sekadar untuk mencatat peristiwa, melainkan untuk menjaga ingatan melampaui satu usia manusia.
Dari sana, ia mengajukan sebuah ajakan yang sunyi namun tegas.
Jangan biarkan Hadiah Nobel menjadi satu-satunya kompas sastra dunia.
Selama lebih dari satu abad, dunia sastra kerap menunduk pada satu mercusuar tunggal.
Setiap tahun, pandangan diarahkan ke Stockholm, menunggu siapa yang akan berbicara atas nama kemanusiaan.
Namun ketika satu pusat mendefinisikan segalanya, keseimbangan dunia menjadi rapuh.
Sastra tidak seharusnya menjadi kerajaan nilai yang diperintah dari satu kutub peradaban.
Sastra adalah percakapan tanpa pusat.
Tempat setiap bahasa, setiap luka, dan setiap keindahan jiwa manusia memiliki hak untuk didengar.
Di sanalah BRICS Literature Award menemukan maknanya.