Uji Lab Ungkap Dugaan Keracunan Massal di Muaro Jambi Dipicu 2 Bakteri

news.fin.co.id - 20/02/2026, 14:43 WIB

Uji Lab Ungkap Dugaan Keracunan Massal di Muaro Jambi Dipicu 2 Bakteri

MAKAN GRATIS ALA INDONESIA, Prabowo Pamer MBG Kalahkan McDonald's

fin.co.id - Hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan dan spesimen klinis dalam kasus dugaan keracunan massal di salah satu sekolah dasar di Muaro Jambi mengindikasikan adanya bakteri patogen sebagai penyebab utama. Secara etiologis, kasus ini diduga kuat dipicu oleh bakteri Staphylococcus aureus, dengan keterlibatan Escherichia coli (E. coli).

Ketua Satgas MBG Muaro Jambi, Budhi Hartono menjelaskan, paparan hasil laboratorium menunjukkan keberadaan Staphylococcus aureus pada sejumlah sampel makanan. Bakteri tersebut teridentifikasi pada tahu (bank sampel), toge (bank sampel), ayam suir (sisa makanan siswa), kol (sisa siswa), serta beberapa sampel sisa hidangan lainnya.

Sementara itu, E. coli ditemukan pada sampel bihun yang berasal dari sisa konsumsi siswa kelas 1 hingga 3. Bahkan, kombinasi E. coli dan Staphylococcus aureus terdeteksi pada sampel ayam suir dari bank sampel.

Pemeriksaan klinis turut memperkuat dugaan kontaminasi pangan. Sampel feses seorang anak berusia 7 tahun dinyatakan positif E. coli, yang mengindikasikan adanya paparan bakteri melalui makanan yang dikonsumsi.

Advertisement

Tak hanya faktor makanan, kualitas air sumur bor yang digunakan juga menjadi sorotan. Hasil uji menunjukkan total coliform mencapai 33 CFU/100 ml, melampaui ambang batas yang diperbolehkan. Selain itu, kadar mangan tercatat sebesar 0,74 mg/l dan dinilai tidak memenuhi standar mutu, sehingga berpotensi meningkatkan risiko kontaminasi lingkungan.

Berdasarkan analisis etiologi, pola kejadian mengarah pada common source outbreak, yakni wabah yang bersumber dari satu paparan yang sama. Hal ini ditandai dengan lonjakan kasus dalam waktu relatif singkat pada periode tertentu.

Temuan tersebut mengarah pada kemungkinan kontaminasi terjadi saat proses pengolahan atau distribusi makanan sebelum dikonsumsi siswa. Staphylococcus aureus umumnya berasal dari tangan atau peralatan yang kurang higienis, sedangkan E. coli sering dikaitkan dengan sanitasi yang tidak memadai.

Pihak terkait diminta segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengolahan makanan, kebersihan dapur, serta kualitas air yang digunakan agar kejadian serupa tidak terulang.

Dalam rapat evaluasi, Budhi Hartono juga menyampaikan sejumlah rekomendasi perbaikan kepada yayasan penyelenggara, Aziz Rukiyah Amanah. Catatan tersebut mencakup penguatan pengawasan dapur, penerapan standar keamanan pangan secara disiplin, serta pembenahan sistem air bersih dan sanitasi.

Pengawasan harian oleh petugas SPPG di lokasi produksi juga diminta diperketat. “Petugas lapangan yang setiap hari berada di dapur harus memastikan seluruh proses berjalan sesuai standar. Pengawasan tidak boleh longgar,” ujar Budhi.

Terkait opsi penghentian atau penggantian yayasan pengelola, Budhi menegaskan keputusan tersebut merupakan kewenangan BGN Pusat. Satgas hanya menyampaikan hasil evaluasi dan rekomendasi sebagai bahan pertimbangan.

“Keputusan apakah diperpanjang, dihentikan, atau diganti sepenuhnya menjadi kewenangan pihak BGN Pusat. Kami fokus pada hasil evaluasi dan langkah perbaikan,” katanya.

Hasil evaluasi ini menjadi pengingat bagi seluruh penyelenggara layanan makan di daerah agar konsisten menerapkan standar keamanan pangan demi mencegah insiden serupa di masa mendatang.

Advertisement

Risza S Bassar/Jambi Independent

 

Mihardi
Mihardi
Penulis

Redaktur FIN.CO.ID