Tahun lalu, Pentagon telah memperingatkan praktik ekspor teknologi fungsi ganda oleh Cina ke Iran karena berisiko memperkuat kapabilitas militernya.
Data Historis Penjualan Misil
Berdasarkan catatan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), Cina tercatat menjual 11.720 unit misil ke Iran dalam periode 1982 hingga 2005.
Penjualan tersebut dihentikan setelah International Atomic Energy Agency (IAEA) menyatakan Iran tidak mematuhi Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT) pada September 2005.
Sejak saat itu, Cina bersama anggota Dewan Keamanan PBB menyetujui embargo ekspor dan impor barang yang berpotensi berkaitan dengan program nuklir Iran.
Meski embargo diberlakukan, celah melalui teknologi fungsi ganda tetap menjadi perhatian serius banyak negara.
Ratusan Perusahaan Cina Diduga Langgar Embargo
Dalam delapan tahun terakhir, lebih dari 100 perusahaan berbasis di Cina masuk dalam daftar yang diduga membantu penyelewengan embargo ekspor ke Iran.
Data dari U.S.-China Economic and Security Review Commission menunjukkan jumlah perusahaan yang diduga melanggar embargo ekspor ke Iran mencapai 366 entitas per November 2025.
Komisi tersebut menyatakan bahwa perusahaan asal dan milik warga Cina telah memfasilitasi penyelundupan komponen asal Amerika Serikat maupun negara lain ke Iran.
Isu ini menambah kompleksitas hubungan Washington-Beijing yang memang sudah tegang akibat berbagai isu perdagangan dan keamanan global.
Antara Bantahan dan Realitas Strategis
Bantahan resmi dari Kementerian Luar Negeri Cina menegaskan bahwa Beijing tidak ingin dipersepsikan terlibat langsung dalam konflik militer Iran-Amerika Serikat.
Namun di sisi lain, isu teknologi fungsi ganda dan catatan historis penjualan senjata menunjukkan bahwa hubungan pertahanan dan teknologi antara Cina dan Iran memiliki rekam jejak panjang.
Dalam situasi geopolitik yang sensitif seperti sekarang, setiap laporan terkait suplai senjata atau teknologi militer dapat memicu eskalasi baru.