fin.co.id - Serangan militer besar yang dilaporkan terjadi pada 6 Maret 2026 menjadi salah satu episode paling dramatis dalam eskalasi konflik di Timur Tengah.
Dalam laporan yang dipublikasikan oleh jaringan televisi internasional milik pemerintah Iran, Press TV disebutkan bahwa rudal Khayber milik Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara Israel dan mencapai wilayah Tel Aviv.
Artikel yang berjudul “Rudal Khayber Iran menembus pertahanan Tel Aviv dalam serangan gabungan besar-besaran” tersebut mengutip pernyataan militer Iran yang menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan gelombang ke-21 dari operasi militer bernama Operation True Promise 4 .
Dalam operasi itu, pasukan kedirgantaraan dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dikabarkan meluncurkan kombinasi drone bunuh diri dan rudal balistik dalam jumlah besar. Tujuannya adalah membanjiri sistem perlindungan udara Israel melalui taktik serangan berlapis atau saturasi.
Menurut laporan tersebut, lebih dari dua ribu drone dan ratusan rudal diluncurkan dalam beberapa gelombang menuju wilayah Israel, dengan fokus utama di kawasan metropolitan Tel Aviv.
Rekaman pencahayaan dan kerusakan di Pusat Kota
Beberapa rekaman yang tersebar di wilayah Tel Aviv menunjukkan objek yang diyakini sebagai rudal yang terfragmentasi di fase terminal penerbangan. Rudal tersebut pecah menjadi sub-munisi sebelum mencapai target.
Fenomena ini menyebabkan munculnya banyak titik ledakan hampir secara bersamaan. Situasi tersebut membuat sistem pencegat Israel menghadapi tekanan besar dalam waktu yang sangat singkat.
Media Israel, termasuk Haaretz , juga melaporkan adanya kerusakan pada beberapa bangunan di pusat kota Tel Aviv akibat ledakan yang terjadi hampir bersamaan.
Namun demikian, detail lengkap mengenai tingkat kerusakan dan korban masih belum sepenuhnya jelas karena adanya informasi selama situasi konflik sedang berlangsung.
Strategi Saturasi: Cara Iran Membanjiri Pertahanan Israel
Salah satu faktor yang menjadi sorotan analis militer adalah penggunaan strategi saturasi oleh Iran. Dalam doktrin peperangan modern, setiap sistem pertahanan udara memiliki kapasitas intersepsi terbatas.
Artinya, radar, sistem komando, dan peluncur pencegat hanya mampu menangani sejumlah target dalam waktu tertentu. Ketika jumlah proyektil yang datang melebihi kapasitas tersebut, sebagian target berpotensi lolos dari intersepsi.
Iran diduga memanfaatkan prinsip ini dengan meluncurkan drone murah terlebih dahulu. Drone tersebut berfungsi sebagai: