fin.co.id - Pemerintah Indonesia resmi membekukan sementara seluruh keterlibatan dalam forum Dewan Perdamaian internasional atau Board of Peace (BoP).
Keputusan ini langsung berdampak pada rencana pengiriman pasukan TNI ke Gaza yang sebelumnya sempat diumumkan sebagai bagian dari misi stabilisasi internasional.
Langkah tersebut diambil di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya setelah serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Situasi ini membuat pemerintah Indonesia menilai perlu melakukan evaluasi terhadap keterlibatan dalam berbagai inisiatif perdamaian internasional.
Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, menyatakan bahwa seluruh aktivitas Indonesia dalam kerangka Board of Peace untuk sementara waktu berada dalam status “on hold” atau dibekukan.
Pembekuan Board of Peace
Keputusan pembekuan tersebut dikonfirmasi oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri, Vahd Nabyl Mulachela. Ia menjelaskan bahwa penundaan kegiatan BoP secara otomatis berkaitan dengan rencana pengiriman pasukan Indonesia ke Gaza.
Menurutnya, rencana tersebut memang berada dalam satu paket kebijakan yang sama dengan keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace.
“Jadi seperti yang disampaikan sebelumnya, statusnya saat ini on hold,” ujar Vahd saat ditemui di kampus Universitas Indonesia, Kamis (12/3/2026).
Pembekuan ini muncul setelah meningkatnya kritik dari berbagai pihak yang menilai forum Dewan Perdamaian tersebut kehilangan relevansi, terutama setelah dua anggotanya—Amerika Serikat dan Israel—melakukan serangan terhadap Iran.
Forum Board of Peace sendiri diketahui dipimpin oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Rencana Pengiriman Pasukan TNI ke Gaza
Sebelumnya, Presiden Indonesia Prabowo Subianto sempat mengumumkan rencana pengiriman hingga 20.000 pasukan TNI untuk bergabung dalam Pasukan Stabilisasi Internasional atau International Stabilization Force (ISF) di Gaza.
Namun dalam perkembangan terbaru, jumlah tersebut berpotensi berubah karena minimnya kontribusi dari negara lain.
Menteri Pertahanan Indonesia, Sjafrie Sjamsoeddin menyebut situasi geopolitik saat ini sangat dinamis sehingga perencanaan misi tersebut terus mengalami penyesuaian.