fin.co.id - Serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 ternyata tidak hanya berdampak pada geopolitik, tetapi juga mengguncang sektor energi global.
Harga minyak dunia langsung meroket, memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di berbagai negara.
Situasi semakin memanas setelah Iran melakukan serangan balasan ke pangkalan militer AS di kawasan Teluk dan wilayah Israel.
Ketegangan ini membuat pasar energi global bereaksi keras, terutama karena ancaman terhadap Selat Hormuz yang menjadi salah satu urat nadi pasokan minyak global.
Jika jalur ini terganggu atau bahkan ditutup, sekitar 20% distribusi minyak dunia bisa terdampak sebuah skenario yang membuat harga energi berpotensi terus melambung.
Harga BBM di Singapura Tembus Rp 35 Ribu per Liter
Dampak langsung terasa di Singapura. Berdasarkan laporan The Straits Times, harga bensin di SPBU lokal mengalami lonjakan signifikan.
Harga bensin oktan 95 di jaringan SPBU seperti Cnergy mencapai sekitar 2,35 dolar Singapura atau setara Rp 31 ribu per liter. Sementara bensin oktan 98 bahkan menembus 2,65 dolar Singapura atau sekitar Rp 35 ribu per liter.
Kenaikan ini menjadi yang tertinggi sejak 2022 dan mulai menekan kehidupan masyarakat, terutama para pekerja sektor transportasi.
Salah satu yang merasakan langsung dampak kenaikan harga BBM adalah pengemudi mobil sewaan pribadi. Muhammad Fauzi (44), misalnya, mengaku penghasilannya menurun drastis.
Biasanya ia bisa meraup hingga Rp 25 juta per pekan, namun kini hanya berkisar Rp 18,5 juta hingga Rp 21 juta. Penurunan ini terjadi meski ia tetap bekerja lebih dari 12 jam sehari.
Platform transportasi online seperti Grab memang memberikan bantuan berupa voucer BBM senilai 40 dolar Singapura. Namun, menurut Fauzi, bantuan tersebut jauh dari cukup.
“Voucer itu bahkan tidak cukup untuk mengisi satu tangki penuh,” keluhnya.
Kondisi serupa juga terjadi di Malaysia. Laporan Malay Mail mencatat kenaikan harga BBM tanpa subsidi dalam dua pekan terakhir.