fin.co.id - Di tengah situasi geopolitik global yang memanas, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mendorong pemerintah untuk mulai mempertimbangkan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) sebagai langkah strategis menjaga stabilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Lamhot Sinaga, menyatakan bahwa kebijakan pemerintah yang sejauh ini belum menaikkan harga BBM patut diapresiasi. Namun, menurutnya, tekanan terhadap anggaran negara semakin besar seiring melonjaknya harga minyak global yang jauh melampaui asumsi dalam APBN.
Ia menilai kondisi tersebut bukan lagi situasi normal, sehingga membutuhkan langkah adaptif dan terukur dari pemerintah.
“Ketika harga minyak dunia melonjak hingga 140 dolar AS per barel, sementara asumsi dalam APBN hanya 70 dolar AS, maka tekanan terhadap fiskal menjadi sangat besar,” kata Lamhot dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (5/4/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut harus dipandang sebagai keadaan darurat ekonomi yang membutuhkan respons kebijakan yang cepat.
Dalam APBN 2026, pemerintah menggunakan asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) sebesar 70 dolar AS per barel. Namun, realitas di pasar global menunjukkan lonjakan harga yang signifikan hingga mendekati 140 dolar AS per barel.
Kondisi ini membuat pemerintah berpotensi menghadapi beban fiskal yang jauh lebih besar dari perencanaan awal.
Lamhot menjelaskan bahwa setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel dapat menambah beban APBN sekitar Rp6 triliun. Artinya, jika harga minyak naik hingga 70 dolar AS di atas asumsi, tekanan terhadap anggaran negara bisa mencapai ratusan triliun rupiah.
“Lonjakan harga minyak global ini berpotensi meningkatkan tekanan fiskal secara signifikan,” ujarnya.
Kenaikan harga minyak dunia tidak lepas dari situasi geopolitik yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah. Ketegangan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Selain konflik militer, ancaman gangguan jalur distribusi energi dunia juga turut memengaruhi harga minyak.
Salah satu jalur vital yang menjadi perhatian dunia adalah Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute pengiriman minyak terbesar di dunia dan menjadi titik strategis bagi perdagangan energi global.
Gangguan di wilayah tersebut dapat berdampak langsung pada pasokan minyak dunia dan memicu lonjakan harga energi.
Lamhot menegaskan bahwa wacana penyesuaian harga BBM seharusnya tidak dilihat sekadar sebagai kebijakan menaikkan harga, melainkan langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.