fin.co.id - Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, mengungkapkan kondisi terbaru di Selat Hormuz yang kini menjadi sorotan dunia di tengah memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Dalam pernyataannya, Boroujerdi menegaskan bahwa jalur laut strategis tersebut tidak ditutup, meskipun situasi keamanan di kawasan itu sedang mengalami peningkatan kewaspadaan akibat konflik geopolitik yang tengah berlangsung.
Selat Hormuz diketahui merupakan salah satu jalur distribusi energi paling penting di dunia. Setiap hari, jutaan barel minyak mentah dari negara-negara Timur Tengah dikirim melalui jalur ini menuju berbagai negara di Asia, Eropa, hingga Amerika.
Karena itulah, setiap perkembangan di kawasan ini selalu menjadi perhatian besar bagi pasar energi global.
Boroujerdi menjelaskan bahwa hingga saat ini aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih berlangsung seperti biasa. Namun, terdapat penerapan protokol keamanan khusus yang diberlakukan selama situasi konflik berlangsung.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan keselamatan kapal yang melintas sekaligus menjaga stabilitas kawasan.
Pernyataan ini disampaikan Boroujerdi saat sesi wawancara khusus bersama Direktur Pemberitaan Tribun Network, Febby Mahendra Putra, di studio Tribunnews.com di Palmerah, Jakarta, Senin (6/4/2026).
“Tentu Selat Hormuz tidak tertutup sekarang ini. Iran merupakan pihak yang sejak ratusan tahun lalu menjadi penyelenggara keamanan dan mengelola keamanan di selat tersebut,” ujar Boroujerdi.
Ia menegaskan bahwa Iran memiliki sejarah panjang dalam menjaga keamanan jalur pelayaran tersebut.
Kapal Tanker Indonesia Terkendala Protokol Keamanan
Dalam kesempatan yang sama, Boroujerdi juga menjelaskan mengenai kapal tanker Indonesia yang hingga kini belum dapat melintasi Selat Hormuz.
Menurutnya, kondisi tersebut bukan disebabkan oleh penutupan jalur laut, melainkan faktor teknis yang berkaitan dengan penyesuaian protokol keamanan selama masa konflik.
Ia menyebutkan bahwa kapal-kapal yang ingin melintas harus terlebih dahulu melakukan komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah Iran.
Hal ini penting untuk menghindari kesalahpahaman di lapangan, mengingat wilayah tersebut sedang berada dalam status siaga tinggi.