Fin.co.id – Posisi rupiah hari ini dalam kondisi terjepit. Pada perdagangan Selasa, 7 April 2026, mata uang Garuda menyentuh Rp17.090 per USD (Dolar AS). Bahkan, di intraday sempat mencapai Rp17.119.
Pelemahan ini terjadi tepat saat dunia menanti dengan cemas ultimatum Presiden AS Donald Trump yang mengancam membombardir infrastruktur energi dan jembatan di Iran pada Rabu pagi, 8 April pukul 07.00 WIB besok.
Ketidakpastian ini menciptakan gelombang shock di pasar keuangan Indonesia. Angka Rp17.090 bukan sekadar statistik harian.
Ini merupakan cerminan ketakutan pasar terhadap potensi eskalasi militer yang bisa melumpuhkan jalur pasokan energi global.
Berdasarkan pantauan di pasar spot, rupiah melemah 0,17% atau turun 29 poin dibandingkan penutupan sebelumnya.
Meskipun indeks dolar AS (DXY) secara global sedang mengalami pelemahan tipis ke posisi 99,84, rupiah justru berjalan berlawanan arah karena faktor risiko domestik yang membengkak.
Referensi Kurs Dolar AS di Sejumlah Bank Utama
|
Institusi
|
Kurs Beli (IDR)
|
Kurs Jual (IDR)
|
|
Bank Indonesia (Jisdor)
|
Rp16.951
|
Rp17.122
|
|
BCA (e-Rate)
|
Rp16.995
|
Rp17.065
|
|
BRI (e-Rate)
|
Rp16.948
|
Rp17.100
|
|
BNI (e-Rate)
|
Rp16.990
|
Rp17.070
|
|
Pasar Spot (Intraday)
|
Rp17.000
|
Rp17.090
|
Mengapa Rupiah Melemah Sendirian di Asia?
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengidentifikasi adanya dua tekanan yang menghantam rupiah secara bersamaan.
Secara mengejutkan, saat mayoritas mata uang Asia seperti Won Korea (+0,68%) dan Baht Thailand (+0,65%) menguat, rupiah justru menjadi salah satu yang tertekan hebat.
1. Luka domestik (fiskal): Indonesia kini memikul beban subsidi BBM yang sangat berat. Harga minyak dunia jenis WTI kini bertengger di kisaran US$112 per barel, naik lebih dari 50% sejak konflik meletus Februari lalu. Angka ini jauh melampaui ambang batas aman APBN sebesar US$97 per barel.
2. Luka eksternal (risk-off): Ultimatum Trump memicu pelarian modal besar-besaran (capital outflow) ke aset aman (safe haven). Indonesia, sebagai negara berkembang dengan defisit energi, menjadi sasaran pertama aksi jual oleh investor asing.
"Dengan situasi saat ini, Rp17.000 mungkin terlihat ideal dalam kondisi normal, namun BI harus waspada. Volatilitas tinggi ini tidak boleh dibiarkan liar karena dampaknya ke inflasi akan sangat nyata," papar Lukman Leong.