fin.co.id - Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kembali menunjukkan peningkatan signifikan di tengah konflik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan laporan terbaru yang dikutip dari Bloomberg , jumlah kapal yang melintasi jalur strategi tersebut mencapai tingkat tertinggi sejak awal perang.
Data terbaru menunjukkan bahwa sebanyak 21 kapal berhasil menyelesaikan seluruh akhir pekan dari wilayah Teluk Persia.
Angka tersebut menjadi rekor tertinggi dalam periode dua hari sejak awal Maret 2026.
Dari total diketahui kapal tersebut, 13 kapal melanjutkan perjalanan menuju wilayah Laut Arab, sementara sisanya tetap berada di jalur pelayaran sekitar Teluk.
Meskipun terjadi peningkatan aktivitas pelayaran, jumlah kapal yang melintas saat ini masih jauh dari kondisi normal sebelum konflik terjadi.
Sebelum ketegangan geopolitik meningkat, jalur ini biasanya dilalui oleh sekitar 135 kapal setiap hari.
Penurunan drastis tersebut menunjukkan bahwa situasi keamanan di Selat Hormuz masih belum sepenuhnya stabil.
Namun demikian, peningkatan jumlah kapal yang berhasil melintas tetap menjadi sinyal bahwa beberapa negara mulai menemukan cara untuk mengamankan jalur transit mereka melalui wilayah tersebut.
Iran Perkuat Pengaruh di Jalur Energi Dunia
Peningkatan lalu lintas kapal juga dianggap sebagai bukti bahwa Iran semakin memperkuat kendalinya terhadap jalur pelayaran strategis tersebut.
Menurut analis minyak mentah senior dari Kpler Ltd yang berbasis di Singapura, Muyu Xu , langkah Iran menunjukkan strategi diplomasi sekaligus penguatan posisi geopolitik.
“Iran menanggapi permintaan para mitranya sambil memperkuat cengkeramannya di Hormuz,” ujar Muyu Xu.
Ia juga mengingatkan bahwa lancarnya jalur pelayaran tersebut masih sangat bergantung pada keputusan pemerintah Iran.