fin.co.id - Konflik geopolitik di Timur Tengah yang memanas sejak akhir Februari 2026 mulai mengubah arah strategi militer negara-negara Teluk. Serangan intens dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran membuat sistem pertahanan udara di kawasan tersebut terkuras.
Situasi ini memaksa sekutu dekat Washington seperti Arab Saudi, Qatar, hingga Uni Emirat Arab untuk segera mencari solusi guna memperkuat pertahanan mereka.
Tidak hanya itu, kondisi tersebut juga memicu pertanyaan besar terkait ketergantungan terhadap pasokan senjata dari Amerika Serikat yang kini menghadapi kendala produksi dan pengiriman.
Akibatnya, negara-negara Teluk mulai melirik mitra baru dalam pengadaan teknologi militer, termasuk Ukraina hingga Korea Selatan.
Salah satu opsi yang kini mulai dilirik oleh negara Teluk adalah kerja sama dengan Ukraina, terutama dalam pengembangan drone pencegat.
Drone pencegat merupakan pesawat tanpa awak yang dirancang untuk menghancurkan drone musuh. Teknologi ini dinilai jauh lebih murah dibandingkan sistem pertahanan udara konvensional yang biasanya menggunakan rudal mahal.
Menurut laporan media internasional, Arab Saudi telah menandatangani kesepakatan kerja sama pertahanan dengan Ukraina. Kesepakatan tersebut mencakup produksi senjata serta berbagi pengalaman dalam pengembangan teknologi militer berbasis drone.
Tidak hanya Arab Saudi, Qatar juga dilaporkan menjalin kerja sama serupa. Bahkan sejumlah pejabat Qatar telah mengunjungi lokasi pelatihan drone di Ukraina serta bertemu dengan perusahaan pertahanan lokal.
Beberapa unit militer dan perusahaan teknologi Ukraina mengungkapkan bahwa negara-negara Teluk kini mulai meminta pengadaan drone pencegat serta sistem perang elektronik yang mampu melawan serangan drone musuh.
Namun, produsen Ukraina menghadapi tantangan tersendiri. Permintaan dalam negeri masih sangat tinggi karena kebutuhan perang yang berlangsung di wilayah mereka. Selain itu, ekspor senjata juga harus mendapatkan persetujuan pemerintah.
Korea Selatan Jadi Alternatif Sistem Pertahanan
Selain Ukraina, negara-negara Teluk juga mulai menjajaki kerja sama pertahanan dengan Korea Selatan.
Arab Saudi dilaporkan telah menghubungi beberapa perusahaan besar seperti Hanwha dan LIG Nex1 untuk mempercepat pengadaan sistem pertahanan udara M-SAM.
Sistem M-SAM merupakan sistem pertahanan udara jarak menengah yang dirancang untuk mencegat berbagai ancaman seperti drone, rudal, hingga pesawat tempur.