Rupiah Melemah ke Rp17.630 per Dolar AS, Dua Faktor Ini Jadi Pemicu Utama

news.fin.co.id - 18/05/2026, 09:59 WIB

Rupiah Melemah ke Rp17.630 per Dolar AS, Dua Faktor Ini Jadi Pemicu Utama

Rupiah hari ini melemah ke Rp17.630 per dolar AS akibat lonjakan harga minyak dunia.

fin.co.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengawali pekan dengan pergerakan negatif. Pasar keuangan melihat mata uang Indonesia layu akibat tekanan ganda, baik dari lonjakan harga komoditas global maupun proyeksi kondisi anggaran dalam negeri yang membayangi sentimen pasar keuangan domestik pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026 pagi.

Rupiah kehilangan 33 poin atau jatuh sebesar 0,19 persen. Angka ini menyeret rupiah ke posisi Rp17.630 per dolar AS. Padahal, pada penutupan perdagangan sebelumnya, kurs rupiah masih bertahan di level Rp17.597 per dolar AS.

Harga Minyak Dunia Melonjak, Mata Uang Asia Babak Belur

Pasar global menyaksikan lonjakan harga minyak mentah dunia yang kini menyentuh angka US$111,24 per barel. Kenaikan tajam komoditas energi ini menjadi batu sandungan utama yang memberatkan langkah mata uang di kawasan Asia sejak pembukaan pasar.

Advertisement

Aksi Presiden AS Donald Trump yang kembali meningkatkan tensi terhadap Iran demi mencapai kesepakatan baru memicu lonjakan harga minyak ini. Imbas dari ketegangan geopolitik tersebut langsung memukul mayoritas mata uang regional. Di antara mata uang Asia yang memerah, rupiah mencatat penurunan paling tajam dan memimpin posisi di zona negatif.

Rapuhnya Data Ekonomi Domestik dan Bayang-Bayang Beban APBN

Selain faktor eksternal, sentimen negatif juga datang dari dalam negeri. Pelaku pasar sejatinya melihat pertumbuhan ekonomi domestik berada di level 5,61%. Walau angka pertumbuhan tersebut terhitung cukup kuat, pasar menilai kualitasnya kurang merata.

Kekhawatiran muncul karena indikator konsumsi masyarakat belum menunjukkan gairah yang sejalan. Dua data acuan utama mengonfirmasi hal tersebut:

  • Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) masih menunjukkan pergerakan yang mandek.
  • Indeks Penjualan Ritel (IPR) belum memperlihatkan tren pertumbuhan yang positif.

Kombinasi antara lonjakan harga minyak dunia dan mandeknya konsumsi domestik memicu kekhawatiran baru mengenai potensi tekanan ganda pada APBN. Di satu sisi, pemerintah berpotensi menghadapi pembengkakan biaya subsidi energi akibat mahalnya minyak mentah global. Di sisi lain, penerimaan negara belum memiliki fondasi yang cukup kuat untuk mendanai rencana ekspansi belanja pemerintah yang agresif.

Ketidakpastian situasi ini membuat para pemilik modal mengambil langkah antisipasi. Investor kini mulai menuntut premi risiko yang lebih tinggi untuk setiap aset investasi di Indonesia, yang pada akhirnya menekan pasar obligasi serta nilai tukar nasional. 

Esnoe Faqih Wardhana
Esnoe Faqih Wardhana
Penulis

Penulis FIN.CO.ID