fin.co.id - Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersiap menerapkan kebijakan baru di sektor energi dengan mewajibkan pencampuran bioetanol sebesar 5 persen atau E5 pada bensin nonsubsidi mulai semester II tahun 2026.
Kebijakan ini berlaku bagi seluruh badan usaha bahan bakar minyak (BBM), baik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun perusahaan swasta yang menjual BBM nonsubsidi di Indonesia.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mendorong penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Program ini juga diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan dalam bauran energi nasional.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menjelaskan bahwa mandatori E5 akan diterapkan sesuai Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 Tahun 2025.
Namun, kebijakan ini hanya berlaku untuk BBM nonsubsidi atau non-PSO yang dipasarkan oleh PT Pertamina (Persero) maupun badan usaha swasta lainnya.
"Untuk semester II tahun 2026 ini, seluruh badan usaha BBM wajib melakukan pencampuran bioetanol sesuai ketentuan yang telah ditetapkan," ujar Eniya dalam rapat bersama Komisi XII DPR RI.
Fokus Awal di Pulau Jawa
Pada tahap awal, implementasi program E5 akan difokuskan di Pulau Jawa. Beberapa wilayah yang menjadi prioritas antara lain Jawa Timur, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pemerintah menargetkan perluasan implementasi ke Bali pada tahun 2027. Selanjutnya, kadar campuran bioetanol akan ditingkatkan menjadi 10 persen atau E10 pada tahun 2028. Pada periode 2029 hingga 2030, kebijakan E10 direncanakan diperluas hingga wilayah Lampung.
Menurut Eniya, distribusi bioetanol akan memanfaatkan infrastruktur yang telah dimiliki Pertamina sehingga implementasi program dapat berjalan lebih efektif dan efisien.
Pertamax Green 95 Jadi Andalan
Sebagai bagian dari persiapan program mandatori bioetanol, Pertamina sebenarnya telah lebih dulu memperkenalkan produk Pertamax Green 95 sejak tahun 2023. Produk ini merupakan bensin dengan campuran bioetanol yang telah diuji di pasar secara bertahap.
Jumlah outlet penjualan Pertamax Green 95 terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2023, produk ini tersedia di 17 outlet. Jumlah tersebut meningkat menjadi 107 outlet pada 2024 dan bertambah lagi menjadi 177 outlet pada 2025.
Hingga Maret 2026, tercatat sudah ada 179 outlet yang menjual Pertamax Green 95 dengan total penjualan mencapai 7.572 kiloliter (KL). Dari jumlah tersebut, sekitar 379 KL merupakan volume bioetanol yang telah dicampurkan ke dalam bahan bakar.