Asia Jadi Penopang Baru Pasar Emas Global di Tengah Pelemahan Harga

news.fin.co.id - 09/07/2026, 17:45 WIB

Asia Jadi Penopang Baru Pasar Emas Global di Tengah Pelemahan Harga

Harga emas Antam hari ini turun lagi Rp15.000 per gram menjadi Rp2.630.000. Foto: ANTARA/ Yudhi Mahatma.

fin.co.id - Kawasan Asia dinilai semakin berperan sebagai pusat pertumbuhan pasar emas global di tengah pelemahan harga emas dunia yang sempat turun ke level 4.100,32 dolar AS, Rabu, 8 Juli 2026.

Berdasarkan data BCA Sekuritas, meningkatnya permintaan emas di kawasan Asia berjalan seiring dengan semakin kuatnya infrastruktur perdagangan logam mulia di sejumlah pusat keuangan seperti Singapura dan Hong Kong.

"Ketika investor menjual emas untuk meningkatkan likuiditas selama konflik di Timur Tengah, harga emas berada di bawah tekanan, tetapi analis mengatakan permintaan di Asia telah menopang harga," tulis data tersebut, Kamis, 9 Juli 2026.

Salah satu indikator yang mencerminkan tren tersebut terlihat dari kinerja dana yang diperdagangkan di bursa atau exchange traded fund (ETF) berbasis emas fisik.

Mengacu pada laporan World Gold Council (WGC) yang dirilis Rabu, 8 Juli 2026, Asia menjadi kawasan dengan arus masuk investasi terbesar ke ETF emas sepanjang semester pertama tahun ini. Nilai investasi yang masuk mencapai rekor 12 miliar dolar AS, jauh melampaui Eropa yang membukukan arus masuk sebesar 3,2 miliar dolar AS.

Ahli Strategi Emas Asia-Pasifik di State Street Investment Management, Robin Tsui, menilai keberhasilan pengembangan pasar emas di kawasan akan lebih ditentukan oleh tingkat likuiditas dan partisipasi pelaku pasar dibandingkan semata-mata oleh pergerakan harga emas.

"Inisiatif ini terus didukung oleh permintaan emas yang tangguh di Asia sejauh tahun ini," ucapnya.

Sebelumnya, harga emas dunia terkoreksi sekitar 0,1 persen ke level 4.100,32 dolar AS, yang menjadi posisi terendah sejak 2 Juli.

Pelemahan tersebut terjadi setelah serangan Amerika Serikat terhadap Iran yang mendorong kenaikan harga minyak dan penguatan nilai tukar dolar AS. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran bahwa tekanan inflasi akan membuat suku bunga bertahan pada level tinggi lebih lama, sehingga mengurangi daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.

Bianca Khairunnisa/Disway

Mihardi
Mihardi
Penulis

Redaktur FIN.CO.ID