Ekonomi . 04/09/2026, 18:03 WIB

Menko Pangan Zulhas Sebut Swasembada Pangan Sebagai Syarat Utama Kemajuan Bangsa

Penulis : Mihardi  |  Editor : Mihardi

fin.co.id - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menegaskan, kemandirian pangan merupakan fondasi utama bagi kemajuan dan kedaulatan suatu negara. Menurutnya, isu pangan tidak sekadar urusan ketersediaan konsumsi harian, tetapi juga berkaitan erat dengan martabat bangsa serta kesejahteraan petani, nelayan, dan peternak.

“Tidak ada negara yang maju tanpa swasembada. Oleh karena itu, Pak Prabowo mengatakan swasembada itu kehormatan,” kata Zulhas dikutip dari Antara, Jumat, 4 September 2026.

Pernyataan tersebut disampaikan saat peluncuran buku Pangan Indonesia: Dari Piring Sehat ke Manusia Unggul yang ditulisnya bersama Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan, Dirgayuza Setiawan. Buku ini ditujukan untuk mempermudah pemahaman publik mengenai kompleksitas kebijakan pangan dan masa depan bangsa.

“Tidak hanya makan itu sekadar nasi di piring, lauk di piring. Tapi kita akan mulai memahami betapa penting soal makan. Karena itu akan menyangkut soal kedaulatan, peradaban kita, masa depan kita,” kata pria yang juga Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) ini.

Peluncuran buku ini bertepatan dengan capaian swasembada delapan komoditas utama pada Agustus 2026 yang diumumkan Presiden Prabowo Subianto, meliputi beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit. Pemerintah menetapkan target lanjutan untuk swasembada bawang putih dalam tiga tahun, serta daging sapi dan kerbau dalam kurun lima hingga enam tahun.

Dari sisi kesejahteraan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Agustus 2026 berada di angka 129,19 (naik 1,05 persen), sementara Nilai Tukar Nelayan (NTN) naik menjadi 109,04 (naik 0,50 persen). Meski tren ekonomi produsen membaik, Zulhas menyoroti posisi tawar nelayan yang kerap dirugikan akibat minimnya fasilitas penunjang.

“Nelayan itu karena dia tidak punya daya tawar, tidak punya pendukung, dia serajin apa pun kalau dapat ikan dia tidak punya daya tawar, tetap ditawarnya rendah, harganya murah, kalau nggak ikannya busuk,” ujar Zulhas.

Guna mengatasi persoalan tersebut, pemerintah mempercepat pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Hingga Agustus 2026, sebanyak 100 lokasi telah berdiri dari target total 1.386 kampung yang diproyeksikan selesai pada akhir Desember 2026.

Pada kesempatan yang sama, Dirgayuza Setiawan mengungkapkan bahwa pemikiran buku ini terinspirasi dari pidato Presiden Pertama RI Soekarno saat meresmikan Kampus IPB Bogor, yang memadukan perhitungan matematis antara tingkat konsumsi dan target produksi nasional.

“Jadi saya terinspirasi bersama Pak Zul menulis ini setelah membaca secara lengkap pidato Presiden Soekarno saat membuka Kampus UI Cabang Bogor, yaitu IPB sekarang,” kata Dirgayuza.

​​​​​​​“Pidato itu sangat kuat matematikanya karena Presiden Soekarno merasa ujungnya matematik. Berapa yang kita konsumsi itu menentukan berapa yang harus kita produksi,” katanya.

Melalui pendekatan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, buku ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran publik akan krusialnya ketahanan pangan demi keberlanjutan ekonomi dan masa depan Indonesia.

           

Network:
FinNews.id  |  Radarpena.co.id  |  IKNpos.id

© 2024 Copyrights by FIN.CO.ID. All Rights Reserved.

PT.Portal Indonesia Media

Alamat: Graha L9 Lantai 3, Jalan Kebayoran Lama Pal 7 No. 17, Grogol Utara, Kebayoran Lama, RT.7/RW.3 Kota Jakarta Selatan 12210

Telephone: 021-2212-6982

Email:fajarindonesianetwork@gmail.com