Nasional . 07/09/2026, 19:26 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
fin.co.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan operasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap dilakukan hingga musim hujan tiba.
Berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan diprediksi mulai mengguyur sejumlah wilayah Indonesia pada Oktober 2026. Hingga kondisi tersebut terjadi, BNPB akan terus mengerahkan upaya pemadaman di wilayah yang masih terdapat titik api.
“Kami masih terus bekerja berjibaku paling tidak sampai musim hujan alami turun,” kata Kepala BNPB Suharyanto dalam rapat daring bersama Presiden RI Prabowo Subianto, Senin, 7 September 2026.
Suharyanto menjelaskan, penanganan karhutla saat ini dilakukan melalui dua pendekatan, yakni operasi di darat dan operasi dari udara. BNPB juga telah menjalankan operasi modifikasi cuaca (OMC) beberapa kali dengan harapan dapat membantu menurunkan hujan di lokasi yang membutuhkan.
“Mudah-mudahan operasi modifikasi cuaca ini juga bisa segera mendatangkan hujan,” ucapnya.
Dalam rapat tersebut, Suharyanto turut memaparkan perkembangan penanganan kebakaran di lahan gambut pada enam provinsi prioritas. BNPB mencatat sekitar 98 persen area yang terbakar telah berhasil dipadamkan.
Enam wilayah tersebut meliputi Kalimantan Barat, Riau, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Jambi. Secara keseluruhan, luas lahan yang terdampak kebakaran mencapai 72.009,10 hektare, sementara sekitar 939,45 hektare masih dalam proses pemadaman.
“Ini kami padamkan dengan operasi darat dan operasi udara. Apakah 939,45 ini setelah dipadamkan hari ini, besok berkurang? Mudah-mudahan berkurang, Bapak Presiden,” ujar Suharyanto.
Meski demikian, proses pemadaman menghadapi kendala karena titik kebakaran baru masih dapat muncul. Selain itu, sejumlah titik yang sebelumnya dinyatakan padam terkadang kembali terbakar.
“Tapi kadang-kadang juga tidak berkurang signifikan, karena hari ini juga ditemukan titik kebakaran yang baru. Atau kebakaran yang lama yang sudah dipadamkan, yang sudah dilaporkan padam, tiba-tiba hidup kembali,” tambahnya.
Menurut Suharyanto, karhutla di kawasan gambut membutuhkan penanganan khusus. Api memang dapat dipadamkan di permukaan, tetapi kondisi di bawah lahan gambut membuat asap masih bisa muncul secara berkelanjutan.
Kondisi tersebut bahkan dapat mengganggu jarak pandang di sejumlah wilayah. Karena itu, meskipun secara keseluruhan kebakaran di enam provinsi prioritas telah berhasil ditekan, BNPB tetap melakukan pemantauan dan penanganan terhadap titik-titik yang berpotensi kembali terbakar.
Untuk mendukung operasi tersebut, sebanyak 43.481 personel gabungan dikerahkan. Mereka berasal dari BNPB, BPBD, TNI, Polri, Masyarakat Peduli Api, Manggala Agni, hingga unsur relawan.
Personel tersebut disebar ke enam provinsi dengan rincian Kalimantan Barat sebanyak 15.091 orang, Kalimantan Tengah 4.686 orang, Kalimantan Selatan 5.000 orang, Sumatera Selatan 11.026 orang, Riau 1.694 orang, dan Jambi 5.984 orang.
Dengan pengerahan personel serta operasi darat dan udara tersebut, BNPB menargetkan penanganan karhutla dapat terus ditekan hingga musim hujan tiba.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media