Ekonomi

'Kenapa Bahlil yang Lulusan UI dengan Predikat Cumlaude Bisa Nampak Begitu Bodohnya'

Guru Besar Universitas Airlangga (Unair) Prof Henri Subiaktor menanggapi polemik kebijakan Menteri ESDM Bahlil Lahadiliah yang melarang pengecer menjual tabung gas LPG 3 kilogram. Masyarakat hanya bisa membelinya di pangkalan resmi pertamina.

'Kenapa Bahlil yang Lulusan UI dengan Predikat Cumlaude Bisa Nampak Begitu Bodohnya'
Warga Teriak di Depan Muka Bahlil Imbas  LPG 3 Kg Susah di Dapat: Anak Kami Lapar!. dok: Candra Pratama

Dia menduga, Bahlil sengaja membuat kebijakan agar ada kegaduhan di tengah masyarakat dan menciptakan dampak buruk kepada pemerintah Prabowo Subianto.

"Kalau sekarang rakyat curiga bahwa ribut ribut gas melon itu adalah sebuah keadaan yang mungkin disengaja diciptakan oleh Bahlil untuk memunculkan dampak buruk pada persepsi tentang kurang pekanya Pemerintah Prabowo sekarang dibanding pemerintah pemerintah sebelumnya, tentu pandangan ini tidak bisa disalahkan juga," ujarnya.

"Untungnya Presiden Prabowo cepat tanggap dan segera memerintahkan pada jajarannya termasuk Bahlil agar rakyat bisa mudah mengakses kembali gas melon 3 kg. Sekarang tinggal kita lihat bagaimana kepatuhan Bahlil dan kelompoknya terhadap instruksi Presiden Prabowo" imbuhnya.

Dia melanjutkan, bahwa peristiwa gonjang ganjing gas melon ini bagi Prabowo bisa dijadikan sebagai sarana untuk melihat person di Pemerintahannya, bahwa siapa yang kemarin membela Bahlil, dan siapa yang menjaga marwah Presiden Prabow.

"Karena pernyataan para pejabatpun banyak yang saling bertentangan, hingga menunjukkan tidak adanya kordinasi yang baik, atau bahkan pejabatnya tidak mampu memahami dan mengantisipasi apa yang benar benar sedang terjadi" pungkasnya. (*)

https://twitter.com/henrysubiakto/status/1886920710700110117

Berita Terkait