BAHAYA! KPK Bongkar Modus 'Akali Tanah Negara' Proyek Whoosh, Oknum Jual Aset Negara Demi Cuan!

news.fin.co.id - 11/11/2025, 17:12 WIB

BAHAYA! KPK Bongkar Modus 'Akali Tanah Negara' Proyek Whoosh, Oknum Jual Aset Negara Demi Cuan!

Kereta Cepat Whoosh. Foto: ANTARA/Rubby Jovan.

Intinya:

  1. Modus 'Akali Tanah Negara' Terbongkar
  2. Dugaan Mark Up Biaya Tiga Kali Lipat
  3. Sorotan Beban Utang dan APBN

Advertisement

KPK membongkar modus kejahatan baru dalam Proyek Whoosh: adanya oknum yang diduga mengakali dan menjual kembali aset tanah milik negara kepada negara untuk mengeruk keuntungan. Penyelidikan ini berfokus pada pengadaan lahan, menyusul sorotan tajam dari Mahfud MD mengenai dugaan mark up biaya yang mencapai tiga kali lipat dibandingkan hitungan China, sekaligus menyoroti beban utang triliunan yang mengancam APBN.

fin.co.id – Mega Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) kini menjadi sorotan tajam Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Setelah memulai penyelidikan dugaan penggelembungan dana (mark up) sejak awal tahun 2025, KPK kini mengungkap modus operandi baru yang berpotensi merugikan keuangan negara dalam proses pengadaan lahan.

Plt. Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, membeberkan adanya dugaan praktik "akali tanah negara". Ia menjelaskan, ada oknum yang sengaja menjual kembali aset milik negara kepada negara itu sendiri, semata-mata demi meraup keuntungan pribadi. Praktik licik ini terjadi dalam proses pengadaan tanah Whoosh.

“Ada oknum-oknum di mana dia, yang bersangkutan itu, yang seharusnya ini milik negara tapi dijual lagi ke negara,” kata Asep Guntur, dikutip Selasa, 11 November 2025. Tentu, peristiwa ini merugikan keuangan negara, sebab tanpa proses mengakali, pembebasan lahan seharusnya bisa jauh lebih murah.

Asep Guntur menegaskan, KPK tidak mempermasalahkan proyek Whoosh secara keseluruhan, tetapi penyelidikan ini fokus pada laporan adanya barang milik negara yang dijual kembali kepada negara dalam pengadaan lahannya. Meskipun Asep belum merinci lokasi lahan bermasalah (apakah di Halim atau Tegalluar), penyelidikan ini menjanjikan babak baru dalam upaya memberantas korupsi di proyek infrastruktur besar.

Mark Up Tiga Kali Lipat: Alarm Mahfud MD

Dugaan mark up fantastis pada proyek Whoosh sebenarnya sudah disinggung mantan Menko Polhukam, Mahfud MD. Isu ini menjadi pendorong KPK memulai penyelidikan secara tertutup sejak Oktober 2025.

Mahfud MD, melalui kanal YouTube-nya, mengungkapkan adanya perbedaan mencolok dalam perhitungan biaya pembangunan kereta cepat per kilometer antara versi Indonesia dan China.

Advertisement

“Menurut pihak Indonesia, biaya per 1 kilometer kereta Whoosh itu 52 juta dolar AS. Tapi di China sendiri hitungannya 17 sampai 18 juta dolar AS. Naik tiga kali lipat kan,” ungkap Mahfud. Kenaikan biaya yang luar biasa ini tentu menimbulkan pertanyaan besar mengenai transparansi penggunaan dana proyek.

Mahfud juga menyoroti beban utang Whoosh yang mencapai sekitar Rp4 triliun pada tahun 2025. Beban ini muncul akibat perubahan skema pembiayaan, dari tawaran Jepang dengan bunga super rendah (0,1 persen) ke pinjaman dari China yang bunganya naik dari 2 persen menjadi 3,4 persen akibat pembengkakan biaya (cost overrun).

Sigit Nugroho
Sigit Nugroho
Penulis

Penulis FIN.CO.ID