fin.co.id - Bank Indonesia mulai mewaspadai potensi kenaikan inflasi pangan pada tahun 2026. Hal ini dipicu oleh kemungkinan datangnya musim kemarau yang lebih cepat dan lebih kering dari biasanya.
Deputi Gubernur BI, Aida S. Budiman, menyampaikan bahwa kondisi tersebut berpotensi menekan pasokan bahan pangan dan mendorong lonjakan harga di pasar.
“Satu hal lagi yang perlu mendapatkan perhatian adalah volatile food, karena dari BMKG ada keterangan kemungkinan musim kemarau yang lebih kering dan datangnya lebih dini,” ujarnya, Rabu (18/3/2026).
Apa Itu Volatile Food?
Dalam konteks inflasi, volatile food merupakan kelompok bahan pangan yang harganya mudah naik-turun dalam waktu singkat.
Biasanya, pergerakan harga komoditas ini sangat dipengaruhi oleh:
-
Cuaca ekstrem
-
Musim panen
-
Gangguan distribusi
-
Permintaan musiman (seperti Ramadan dan Lebaran)
Komoditas yang termasuk kategori ini antara lain:
-
Cabai merah dan cabai rawit
-
Daging ayam ras
-
Beras
-
Jagung
Data Terbaru: Inflasi Pangan Mulai Naik
Berdasarkan data terbaru, inflasi kelompok volatile food menunjukkan tren peningkatan signifikan:
-
Februari 2026 (bulanan): naik 2,50%
-
Januari 2026: sebelumnya deflasi 1,96%
-
Tahunan: melonjak menjadi 4,64% dari 1,14%
Kenaikan ini menjadi sinyal awal bahwa tekanan harga pangan mulai terasa di masyarakat.