Nasional . 30/06/2026, 22:57 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
fin.co.id - Transformasi besar terjadi di Pulau Nusakambangan melalui implementasi 15 Program Aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto. Kawasan yang selama ini identik dengan citra penjara berkeamanan tinggi dan suasana mencekam kini beralih menjadi lingkungan yang lebih tertata, bersih, terang, serta berkontribusi dalam penguatan ketahanan pangan nasional.
Di antara sejumlah lembaga pemasyarakatan yang berdiri di kawasan yang kerap dijuluki "Alcatraz Indonesia" tersebut, Lapas Kelas IIA Permisan menjadi salah satu yang paling dikenal. Lembaga pemasyarakatan dengan klasifikasi medium security ini dibangun pada masa pemerintahan kolonial Belanda pada 1908, sehingga tercatat sebagai salah satu kompleks penjara tertua yang masih beroperasi di Indonesia.
Di balik tembok Lapas Permisan, lahir sebuah karya kreatif yang kini dikenal hingga mancanegara, yakni Batik Vermis. Melalui keterampilan para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), kain polos disulap menjadi produk seni bernilai tinggi. Tidak hanya batik tulis, para perajin juga menghasilkan batik cap, syal, hingga batik ecoprint yang saat ini menjadi produk unggulan bengkel kerja Permisan.
Didampingi jajaran Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Publik Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Pusdatin Kemenimipas), sejumlah jurnalis media nasional berkesempatan melihat langsung aktivitas di lapas yang berada di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah tersebut pada Senin, 29 Juni 2026.
Suasana di bengkel kerja batik jauh dari kesan suram yang selama ini melekat pada Nusakambangan. Aroma malam panas tercium dari tungku pemanas. Sejumlah warga binaan tampak fokus menggoreskan canting mengikuti pola pada kain. Di sisi lain, beberapa orang tengah meracik warna, sementara lainnya menyelesaikan proses pelorotan untuk menghilangkan lapisan malam dari kain batik.
Percakapan terdengar santai di sela-sela aktivitas produksi. Sesekali terdengar tawa ringan, namun tangan para perajin tetap bekerja tanpa henti. Saat ini, sekitar 30 warga binaan terlibat sebagai pengrajin Batik Vermis. Menariknya, proses kreatif tersebut tidak hanya melibatkan warga binaan asal Indonesia, tetapi juga sejumlah warga negara asing.
Ada Paulo dari Brasil, Riaz dari Pakistan yang piawai mendesain motif, Mustafa asal Iran yang menguasai teknik pewarnaan, hingga Abraham dari Nigeria yang juga bertugas pada proses pewarnaan.
Kehadiran para warga binaan dari berbagai negara tersebut memberikan identitas tersendiri bagi Batik Vermis. Motif tradisional Indonesia dipadukan dengan unsur budaya internasional sehingga menghasilkan corak yang lebih segar, modern, dan unik.
Kepala Lapas Permisan Dedi Cahyadi menjelaskan, program pembinaan batik mulai dikembangkan sejak 2019 sebagai bagian dari pembinaan kemandirian bagi warga binaan.
"Semua diawali dari proses asesmen. Kami melihat minat dan kemampuan mereka. Yang punya bakat menggambar, melukis, menulis kaligrafi, diarahkan ke bengkel kerja batik. Di sini mereka belajar dari awal sampai benar-benar mampu menghasilkan karya," ungkapnya.
Program Bimbingan Kerja (Bimker) menjadi salah satu bentuk pembinaan kemandirian yang terus diperkuat Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Program tersebut bertujuan membekali warga binaan dengan keterampilan yang dapat dimanfaatkan saat kembali ke tengah masyarakat.
Salah satu sosok yang menarik perhatian di bengkel kerja tersebut adalah Paulo. Pria berusia 60 tahun asal Brasil itu telah menjalani masa pidana selama 18 tahun dalam kasus narkotika dan dijadwalkan bebas dalam dua tahun mendatang.
Selama empat tahun terakhir, Paulo menghabiskan waktunya dengan membatik. Ia dipercaya menangani proses desain sekaligus pewarnaan. Bahkan, ia turut memperkenalkan Batik Vermis kepada keluarga dan relasinya di Brasil.
"Kalau membuat motif, kami sering mencari inspirasi dari internet. Selalu ada ide baru," ceplosnya dengan bahasa Indonesia yang lancar, sambil menunjukkan selembar kain yang sedang digarap.
Salah satu karya yang paling disukainya merupakan perpaduan budaya Indonesia dan Brasil. Motif burung flamingo dijadikan elemen utama yang dipadukan dengan ornamen khas batik Nusantara. Selain itu, ia juga menciptakan motif burung merak dengan sentuhan budaya Brasil.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media