Nasional . 30/06/2026, 22:57 WIB
Penulis : Mihardi | Editor : Mihardi
Menurut Paulo, tingkat kesulitan terbesar dalam membatik terletak pada pengerjaan detail-detail kecil.
"Motif kecil-kecil yang paling sulit. Satu kain bisa selesai sekitar tiga minggu," bebernya.
Bagi Paulo, aktivitas membatik bukan sekadar sarana mengisi waktu selama menjalani masa pidana. Kegiatan tersebut juga memberinya harapan dan sumber penghasilan.
Besaran premi yang diterima warga binaan bervariasi sesuai jenis produk yang dihasilkan. Untuk syal pashmina atau batik colet sederhana, premi yang diberikan sebesar Rp10 ribu. Sementara itu, batik cap memperoleh Rp30 ribu, syal tulis dan batik cap colet Rp50 ribu, batik tulis Rp110 ribu, batik tulis premium Rp150 ribu, dan batik tulis kombinasi emas mencapai Rp175 ribu.
Pembagian premi dilakukan kepada seluruh pekerja sesuai peran masing-masing dalam proses produksi, mulai dari pembuat motif, pembuat cap, pewarna, hingga tahap penyelesaian akhir.
"Uangnya saya pakai untuk makan dan beli rokok," kata Paulo sambil tersenyum.
Menurut Dedi, sistem pembagian keuntungan tersebut menjadi motivasi tersendiri bagi para warga binaan. Sebanyak 50 persen keuntungan penjualan dialokasikan sebagai premi bagi warga binaan, 15 persen disetorkan sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), sedangkan sisanya digunakan kembali sebagai modal produksi.
"Premi inilah yang paling disukai warga binaan. Bisa untuk kebutuhan sehari-hari, ditabung, atau membantu keluarga," kata Dedi.
Kini, Batik Vermis tidak hanya dikenal di dalam negeri. Produk-produk hasil karya warga binaan Lapas Permisan pernah dibawa ke Amerika Serikat oleh rombongan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia saat melakukan kunjungan ke lapas tersebut.
Selain Amerika Serikat, Batik Vermis juga telah dipasarkan hingga Australia, Jerman, Brasil, dan Iran. Promosi dilakukan melalui berbagai saluran, seperti pameran di lingkungan Kemenimipas, kunjungan kedutaan besar, kerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat, kunjungan tamu resmi, media sosial Lapas Permisan, hingga platform perdagangan elektronik.
Harga produk Batik Vermis cukup beragam. Batik tulis dijual dengan kisaran harga Rp600 ribu hingga Rp1 juta, tergantung bahan dan tingkat kerumitan motif. Sementara itu, batik cap dan batik ecoprint dipasarkan dengan harga Rp200 ribu hingga Rp350 ribu, sedangkan syal batik dibanderol mulai Rp80 ribu.
Keunikan lain dari Batik Vermis adalah seluruh pembatiknya merupakan laki-laki, mengingat Lapas Permisan tidak memiliki warga binaan perempuan.
"Bahkan kreativitas mereka pernah melahirkan motif Covid-19 saat pandemi beberapa tahun lalu. Motif itu sempat menjadi perhatian karena memadukan simbol virus dengan corak batik modern," ungkap Dedi.
Selain mengembangkan usaha batik, bengkel kerja Lapas Permisan juga mengelola sejumlah unit usaha lain, seperti bakery yang memproduksi roti dan aneka kue, serta kerajinan berbahan kulit sapi asli berupa tas, dompet, sandal, sabuk, hingga tempat penyimpanan STNK.
Di bidang ketahanan pangan, warga binaan juga mengembangkan peternakan ayam Arab dan greenhouse modern untuk budidaya anggur serta melon unggulan.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media