Politik . 26/08/2026, 20:27 WIB
Penulis : Esnoe Faqih Wardhana | Editor : Esnoe Faqih Wardhana
fin.co.id - Jajaran pimpinan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan menyuarakan harapan besar agar forum tertinggi Nahdlatul Ulama berfokus menjawab berbagai tantangan riil masyarakat. Ketua DPP PDIP Said Abdullah mengingatkan agar energi Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) tidak dihabiskan untuk perebutan kepemimpinan, tetapi diarahkan pada persoalan umat dan bangsa.
“Sebagai kekuatan subkultur, NU menjadi ruang budaya tempat nilai-nilai keislaman, keindonesiaan, toleransi, dan kearifan lokal berproses secara organik. Praktik inilah yang menjadi kedigdayaan NU hingga hari ini,” kata Said dalam keterangan di Jakarta, Rabu, 26 Agustus 2026.
Said mengatakan, NU menghadapi berbagai persoalan di akar rumput, antara lain kemiskinan, pengangguran, krisis pertanian dan lingkungan, serta persoalan global yang berdampak pada kondisi ekonomi dan demokrasi.
Menurut dia, modal sosial yang menjadi kekuatan NU harus terus dihidupkan agar organisasi tersebut tidak terjebak dalam dinamika politik.
Hal itu, kata Said, termasuk tidak membawa proses suksesi kepemimpinan NU seperti pergantian pemimpin politik yang bersifat pragmatis dan transaksional.
Said mengatakan NU memang tumbuh dari lingkungan pesantren yang banyak berada di pedesaan, tetapi peran dan harapan terhadap NU melampaui kedudukannya sebagai komunitas desa dan kekuatan subkultur.
Tradisi intelektual keislaman NU yang dipadukan dengan keberadaan ratusan ribu sarjana NU yang menimba ilmu di berbagai penjuru dunia dinilai menjadi kekuatan penting untuk menjawab berbagai persoalan.
Ia menuturkan NU kini tidak lagi sekadar menjadi kekuatan subkultur, melainkan kekuatan diasporik yang memiliki peran dalam menjawab persoalan peradaban.
Said mengatakan NU perlu belajar dari kejayaan Islam pada masa Dinasti Abbasiyah pada abad ke-8 hingga ke-13 Masehi yang, menurut dia, tidak semata-mata bertumpu pada kekuatan politik.
“Bahkan kehancuran Islam karena banyaknya pertikaian politik,” tuturnya.
Karena itu, Said menilai NU akan semakin besar dan turut membangun peradaban Islam apabila tetap berada di jalan keumatan serta berkontribusi dalam penyelesaian persoalan umat dan masalah peradaban.
Ia juga mendorong hasil Bahtsul Masail sebagai forum musyawarah keilmuan para ulama dan intelektual NU lebih banyak dikemukakan untuk menunjukkan kemampuan keilmuan dan keislaman NU dalam menjawab tantangan zaman.
Menurut Said, hasil pemikiran tersebut dapat terus menjaga relevansi NU dari masa lalu, masa kini, hingga masa depan serta memperkuat perannya sebagai bagian dari solusi atas berbagai persoalan.
“Sebagai bagian jamaah NU, yang sejak lahir, kecil hingga tumbuh dewasa di lingkungan NU, saya berharap NU teguh di jalan keteladanan moral, spiritual, dan sosial,” ungkap Said yang juga Ketua DPD PDIP Jawa Timur.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media