Ekonomi . 25/09/2026, 13:00 WIB
Penulis : Ari Nur Cahyo | Editor : Ari Nur Cahyo
fin.co.id - Binance, ekosistem blockchain global dengan volume perdagangan terbesar di dunia, kembali menggelar ajang tahunan bergengsi Binance Blockchain Week (BBW). Setelah sukses menyambangi berbagai kota besar seperti Singapura, Istanbul, Paris, dan Dubai, ajang akbar kali ini siap dihelat di Queen Sirikit National Convention Center (QSNCC), Bangkok, Thailand, pada 28 hingga 29 November 2026.
Selama dua hari penyelenggaraan, ribuan builder, investor institusional, pelaku fintech, hingga para pembuat kebijakan akan berkumpul. Mereka siap membedah masa depan aset digital dengan menyoroti batas antara keuangan konvensional (TradFi) dan industri kripto yang kini semakin melebur.
Pemilihan Bangkok sebagai tuan rumah edisi khusus Asia didasari oleh dinamika pasarnya yang sangat progresif. Pertumbuhan komunitas developer, peningkatan partisipasi ritel maupun institusi, serta regulasi yang kian terbuka menjadikan Thailand sebagai salah satu motor penggerak arah baru dunia keuangan masa depan.
Co-CEO Binance, Richard Teng, menegaskan bahwa kawasan Asia menjadi episentrum utama pertemuan antara sistem keuangan tradisional dan teknologi kripto.
"Asia adalah tempat di mana babak baru pertemuan TradFi dan kripto benar-benar terwujud dan dipakai secara luas," ujar Richard Teng.
Ia menambahkan, ajang BBW Bangkok 2026 akan menjadi medium untuk menguji sejauh mana inovasi industri dapat berkembang tanpa mengorbankan aspek keamanan dan kepatuhan. Seiring keterlibatan institusi yang semakin dalam, fokus utama Binance tetap mengutamakan perlindungan pengguna yang lebih kuat serta standar ekosistem yang jelas.
"Acara ini akan menunjukkan bagaimana Binance berubah dari sekadar platform trading menjadi super app finansial yang menjembatani dua dunia itu," tuturnya.
Binance Blockchain Week Bangkok 2026 mengusung tema besar EVOLVE, yang merefleksikan fase kedewasaan industri kripto tahun ini. Sejumlah topik strategis masuk ke dalam agenda utama, mulai dari dominasi Bitcoin di ranah institusional, stablecoin sebagai jalur pembayaran global, evolusi DeFi tingkat lanjut, tokenisasi aset dunia nyata (RWA), saham yang di-tokenisasi, pembayaran lintas negara, integrasi kecerdasan buatan (AI), hingga kerangka regulasi yang mendukung pertumbuhan bertanggung jawab.
Co-Founder sekaligus Co-CEO Binance, Yi He, menjelaskan bahwa gelombang adopsi aset digital berikutnya—yang disebut sebagai Road to 3 Billion—sangat bergantung pada kemudahan akses, edukasi, serta utilitas produk dalam kehidupan sehari-hari.
"Adopsi akan tumbuh ketika teknologi cukup sederhana dan mulus untuk masuk begitu saja ke keseharian orang - entah saat melakukan pembayaran lintas negara, mengakses sekuritas yang di-tokenisasi, atau mengelola portofolio digital," jelas Yi He.
Sementara itu, Head of APAC Binance, SB Seker, menilai bahwa kawasan Asia memiliki karakteristik unik dalam mengadopsi teknologi blockchain di bawah payung regulasi yang kian matang.
Network:
FinNews.id |
Radarpena.co.id |
IKNpos.id
PT.Portal Indonesia Media