Namun, lanjut Andy Nugroho, jika tidak bijak, FOMO bisa jadi bumerang. Diakui Padel cukup mahal.
"Sebenarnya bisa untuk semua kalangan. Namun kalangan dari ekonomi menengah atas memiliki kemudahan mengaksesnya. Karena biayanya cukup mahal," terangnya.
Ia menyindir orang-orang yang hanya ingin main Padel untuk eksistensi diri. Tanpa melihat kebutuhan dasar. Intinya takut ketinggalan tren alias takut dibilang gak update.
"Apabila hanya mengejar stigma dan agar dibilang kalcer dan demi eksistensi diri, sementara penghasilannya terbatas, kemungkinan akan membuat kebutuhan-kebutuhan lain tidak tercukupi. Biasanya yang terabaikan adalah kebutuhan untuk menabung dan investasi," tutur Andy.
Di sisi lain, pengguna justru menikmatinya. Selain berolahraga, Padel juga bisa jadi sarana lobi dan bisnis.
Nicholas S, seorang pengusaha industri aksesoris contohnya. Dia baru 2 bulan menekuni Padel.
Menurutnya, olahraga ini bukan hanya kebugaran. Tapi juga menjadi sarana bersosialisasi dan menjalin relasi baru.
“Dengan bermain rutin mendapatkan kesempatan untuk berolahraga. Biasanya open play setiap hari. Kadang pagi kadang sore. Kalau malam sering juga, jam 10-12 malam," jelas Nicholas ketika ditemui oleh Disway di lapangan Padel Wins Arena, Kuningan, Jakarta, Sabtu 12 Juli 2025.
"Sangat worth it banget dicoba. Karena kita juga selain main bisa untuk sosial sama teman-teman," tutupnya.
Risiko Kesehatan Padel
Meskipun bermanfaat, spesialis kedokteran olahraga dokter Andi Prasetya, mengingatkan beberapa risiko.
Terutama bagi pekerja kantoran yang berolahraga intensif setelah seharian duduk. Menurutnya, ada beberapa hal yang patut diwaspadai. Yaitu:
Cedera Otot dan Sendi: Gerakan eksplosif (lari, melompat, berhenti mendadak) meningkatkan risiko cedera otot (hamstring, betis, paha depan). Selain itu cedera sendi (pergelangan kaki, lutut). Otot yang kaku setelah duduk lama rentan cedera.
Cedera Mata: Bola Padel melaju cepat. Ini berisiko tinggi menyebabkan trauma mata jika tidak menggunakan pelindung memadai.
Tekanan Kardiovaskular: Olahraga intens di malam hari bisa memicu masalah serius. Terutama bagi individu dengan kondisi jantung tidak terdiagnosis atau belum terkontrol. Kelelahan ekstrem atau nyeri dada adalah sinyal bahaya.