Wujudkan Kedaulatan Pangan Indonesia

news.fin.co.id - 22/08/2025, 09:53 WIB

Wujudkan Kedaulatan Pangan Indonesia

INDONESIA berupaya keras mengukuhkan posisinya sebagai negara yang berdaulat secara pangan. Program lumbung pangan nasional jadi salah satu agenda prioritas.

Sejalan dengan itu, Pupuk Indonesia mendukung program swasembada dengan memastikan ketersediaan pupuk.

Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menyebut ketersediaan pupuk mencapai 2 juta ton dan didistribusikan ke 27.000 kios resmi di seluruh Indonesia.

Digitalisasi menjadi kunci dalam penyaluran pupuk, dengan aplikasi i-Pubers yang mencatat penebusan pupuk secara real time.

Ini memastikan pupuk bersubsidi tepat sasaran. Sinergi ini menunjukkan ketahanan pangan bukan lagi isu sektoral. Melainkan isu strategis yang melibatkan semua komponen bangsa.

Sinergi Polri dan Dukungan Daerah (H-2)

Selain TNI, Polri juga turut serta melalui Satgas Pangan. Satgas ini berfungsi memastikan distribusi komoditas vital.

Seperti beras dan jagung berjalan lancar, mencegah penimbunan, dan praktik kecurangan harga.

"Satgas Pangan berada dalam koordinasi lintas sektor. Polri bagian dari sinergi untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mendukung pencapaian tujuan Asta Cita," tegas Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.

Polri, lanjutnya, berkomitmen sebagai "problem solver" Masyarakat. Tidak hanya di lapangan. Tapi juga di hulu permasalahan.

“Tidak sekadar menghadapi teman-teman serikat buruh saat turun ke lapangan, tetapi bergerak di hulu bagaimana mencarikan solusi atas permasalahan yang ada," jelas Listyo.

Mantan Kabareskrim Polri ini menambahkan Satgas Pangan berada dalam koordinasi lintas sektor. Polri menjadi salah satu unsur pendukungnya.

Pengamat pertanian Khudori dari AEPI memandang program ini sebagai sebuah keniscayaan.

Gagasan Food Estate secara konsep sangatlah relevan dan penting bagi Indonesia sebagai negara agraris. Terutama mengingat tantangan besar seperti pertumbuhan penduduk dan konversi lahan pertanian di Pulau Jawa yang semakin masif.

Ia menekankan diversifikasi produksi dari Jawa ke luar Jawa, dengan pembangunan infrastruktur seperti irigasi dan jalan yang memerlukan waktu.

"Produksi di lahan pertanian berbeda dengan produksi manufaktur yang sepenuhnya bisa dikontrol. Ada banyak variabel yang tidak bisa dikendalikan. Seperti kondisi tanah dan iklim. Karena itu, program ini harus diletakkan dalam konteks jangka menengah-panjang," jelas Khudori kepada Disway.

Khanif Lutfi
Khanif Lutfi
Penulis

Penulis FIN.CO.ID