Meskipun mengakui adanya tantangan dan beberapa catatan dalam implementasi awal di lapangan, Sujarwo menekankan program sebesar Food Estate tidak bisa dinilai secara instan.
Menurutnya, perlu ada proses pembelajaran, adaptasi teknologi, dan penyempurnaan manajemen yang berkelanjutan.
"Keberhasilan program ini kasat mata dari hasil panen yang sudah ada. Jika sudah berhasil panen, artinya aspek kondisi lahan, air, agroklimat, dan kesiapan petani sudah terpenuhi," tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pengembangan Food Estate.
Sujarwo menyebutkan Food Estate dapat secara signifikan mendorong kesejahteraan petani melalui penerapan pola kelembagaan atau korporasi petani.
Dengan skema ini, petani tidak hanya menjadi buruh tani. Tetapi menjadi bagian dari sebuah entitas bisnis yang memiliki skala ekonomi yang besar dan berkelanjutan.
"Dengan ini, efek penciptaan nilai tambah akan semakin terbuka lebar jika sumber daya pertanian dikelola secara perusahaan," urainya.
Para pakar dari IPB sepakat program Food Estate perlu terus dilanjutkan dengan evaluasi dan perbaikan secara terus-menerus.
Mereka merekomendasikan agar pemerintah terus fokus pada pengembangan lumbung pangan ini sebagai jalan untuk mewujudkan ketersediaan pangan yang memadai bagi seluruh rakyat, meningkatkan pendapatan petani, dan bahkan membuka peluang ekspor di masa depan.
Food Estate ini mendorong kesejahteraan petani melalui korporasi. Selain itu, membuka nilai tambah yang besar.
Hal ini juga sejalan dengan pandangan Guru Besar IPB lainnya yakni Prof. Aman Wirakartakusumah.
Dia menyatakan keberhasilan program ini sangat bergantung pada empat pilar utama: kelayakan tanah dan agroklimat, kelayakan teknologi, kelayakan infrastruktur, serta kelayakan sosial ekonomi.
"Tanpa teknologi, kita kehilangan jiwa pembangunan pangan. Dari pengelolaan lahan, air, pupuk, hingga pascapanen dan industri pengolahan, semuanya membutuhkan pendekatan berbasis sains dan teknologi," ujar Prof. Aman.
Jagung dan Beras Pilar Utama Lumbung Pangan (H-2)
Lumbung pangan nasional fokus pada jagung dan beras. Ini untuk swasembada dan ekspor.