Intinya:
- Penyelidikan Dugaan Mark Up Proyek Whoosh Masuk Tahap Awal oleh KPK.
- Mahfud MD Soroti Perbedaan Biaya Pembangunan yang Mencolok.
- KPK Mendorong Keterlibatan Publik dan Dukungan Transparansi.
BOM WAKTU Whoosh Berdetak! KPK pastikan penyelidikan dugaan mark up proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung sudah berjalan sejak awal 2025, menyusul sorotan tajam Mahfud MD soal selisih biaya fantastis yang mencapai tiga kali lipat. Siapa saja yang bertanggung jawab di balik lonjakan utang Rp 4 triliun ini? KPK kini fokus mencari bukti pidana!
fin.co.id - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sedang memegang fokus penuh pada kasus dugaan penggelembungan dana atau mark up proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, atau yang populer dengan nama Whoosh. Meskipun proses ini sudah berjalan sejak awal tahun 2025, KPK menegaskan belum membicarakan penetapan tersangka.
Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, menjelaskan bahwa proses saat ini masih berada di tahap penyelidikan. Tim penyidik masih berkutat pada pencarian peristiwa pidana dan pengumpulan keterangan terkait unsur-unsur tindak pidana korupsi.
“Ini masih di tahap penyelidikan, ya. Jadi masih fokus untuk mencari keterangan-keterangan terkait unsur-unsur dugaan tindak pidana korupsi, unsur-unsur peristiwanya, peristiwa adanya dugaan tindak pidana korupsinya,” kata Budi kepada wartawan, Selasa (28/10/2025).
Budi belum bisa memastikan kapan penyelidikan ini akan naik ke tahap penyidikan. Namun, dia memastikan tim penyidik tidak menemukan kendala signifikan dan proses terus berjalan.
“Ini masih terus berprogres, ya. Artinya sudah dimulai, diawali sejak awal tahun, dan tentunya ini masih terus berjalan,” tegasnya.
Mengapa Publik Wajib Mengawal Kasus Whoosh?
Kasus dugaan korupsi proyek Whoosh ini menjadi perhatian serius publik dan media setelah pernyataan keras dari mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD.
Mahfud MD, melalui unggahan di kanal YouTube pribadinya, mengungkap adanya perbedaan yang mencolok dan tidak masuk akal dalam perhitungan biaya pembangunan kereta cepat per kilometer antara versi Indonesia dan China.
“Menurut pihak Indonesia, biaya per 1 kilometer kereta Whoosh itu 52 juta dolar AS. Tapi di China sendiri hitungannya 17 sampai 18 juta dolar AS. Naik tiga kali lipat, kan,” ujar Mahfud dalam video tersebut, menimbulkan pertanyaan besar tentang ke mana selisih dana yang signifikan itu mengalir.
Mahfud MD menilai perbedaan angka yang terlalu besar tersebut patut menjadi perhatian serius aparat penegak hukum karena mengindikasikan adanya mark up yang perlu diteliti secara menyeluruh.