Penangkapan di pusat bantuan yang terafiliasi dengan Amerika Serikat ini menambah daftar panjang pelanggaran protokol internasional terkait zona aman bagi warga sipil.
Dari sana, Ahmed al-Helou dibawa ke pusat penahanan Israel yang menjadi awal dari rangkaian mimpi buruk yang kini menghantui setiap tidurnya. Hingga saat ini, kondisi Ahmed al-Helou masih sangat memprihatinkan.
Para ahli psikologi menyatakan trauma yang dialami Ahmed memerlukan waktu bertahun-tahun untuk pulih. Bahkan ada kemungkinan luka tersebut tidak akan pernah benar-benar sembuh.
Upaya rehabilitasi terus dilakukan oleh berbagai lembaga kemanusiaan. Namun tantangan terbesar adalah mengembalikan kepercayaan Ahmed al-Helou terhadap manusia dan lingkungan sekitarnya.
Kasus ini menjadi alarm keras bagi komunitas internasional mengenai urgensi perlindungan anak-anak di bawah hukum perang internasional. Dunia kini menunggu keadilan bagi Ahmed al-Helou dan 14 anak Palestina lainnya.