fin.co.id - SMP IL Kapten Fatubaa di Desa Fatubaa, Indonesia, berhasil meraih gelar Juara Utama dalam AIA Healthiest Schools Competition 2026 setelah menghadirkan inovasi pemanfaatan limbah kulit pisang yang menggabungkan pendidikan lingkungan, kewirausahaan, dan pemberdayaan masyarakat.
Atas prestasi tersebut, sekolah menerima hadiah senilai 40.000 dolar Amerika Serikat. Program yang dikembangkan mengolah kulit pisang menjadi berbagai produk bermanfaat, seperti es krim, kompos, dan pupuk cair, serta telah memberikan dampak positif bagi lebih dari 1.000 orang.
AIA Healthiest Schools Competition kini memasuki tahun keempat penyelenggaraannya. Program ini menjadi bagian dari inisiatif AIA Healthiest Schools (AHS) yang ditujukan bagi peserta didik berusia 5 hingga 16 tahun untuk membiasakan pola hidup sehat melalui empat fokus utama, yakni pola makan sehat, gaya hidup aktif, kesehatan mental, dan keberlanjutan.
SMP IL Kapten Fatubaa dinobatkan sebagai pemenang tingkat regional setelah menyisihkan hampir 1.000 karya dari berbagai negara di kawasan Asia Pasifik. Jumlah tersebut menjadi partisipasi terbesar sejak kompetisi ini pertama kali digelar. Penghargaan diserahkan dalam seremoni regional yang berlangsung di Bangkok, Thailand.
Melalui kompetisi ini, sekolah-sekolah didorong untuk mengubah gagasan mengenai kesehatan dan kesejahteraan menjadi program nyata yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan tersebut tidak hanya membangun kebiasaan hidup sehat di kalangan siswa, tetapi juga menciptakan manfaat bagi lingkungan sekolah dan masyarakat.
Head Judge of the AIA Healthiest Schools Competition sekaligus AIA Group Chief Marketing Officer Stuart A Spencer mengatakan, AIA Healthiest Schools Competition merupakan program terbesar di Asia dalam bidangnya dan membantu generasi muda mengambil peran aktif terhadap kesehatan mereka dengan mengubah pengetahuan menjadi tindakan nyata. Di seluruh kawasan, kita melihat meningkatnya tingkat kurangnya aktivitas fisik, kualitas nutrisi yang menurun, serta meningkatnya tekanan terhadap kesehatan mental anak muda.
"Berbagai bukti menunjukkan bahwa intervensi sejak dini dapat memberikan dampak yang bertahan lama. Melalui program ini, para siswa membangun kebiasaan hidup sehat sekaligus mengembangkan keterampilan hidup penting seperti kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, dan kerja sama,” tuturnya dikutip dalam keterangannya, Kamis (9/7/2026).
Ia menambahkan, program tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan kesadaran, tetapi juga mendorong perubahan perilaku yang nyata dan berkelanjutan sebagai bagian dari komitmen AIA untuk membantu masyarakat hidup lebih sehat, lebih lama, dan lebih baik.
“Selamat kepada Pemenang Regional kami, SMP IL Kapten Fatubaa dari Indonesia, serta para pemenang pada masing-masing kategori. Kisah inspiratif kalian akan menginspirasi lebih banyak generasi muda di seluruh Asia dalam mewujudkan masa depan yang lebih sehat," tambah Stuart.
Dalam kesempatan yang sama, Group Chief Executive and President AIA Group Lee Yuan Siong menilai kekuatan utama program tersebut terletak pada kemampuannya mengubah pengetahuan tentang kesehatan menjadi kebiasaan yang diterapkan setiap hari oleh para siswa.
"Hal yang paling kuat dari program ini adalah kemampuannya mengubah kesehatan dari sesuatu yang hanya dipelajari siswa menjadi sesuatu yang mereka praktikkan setiap hari. Tindakan sederhana seperti makan lebih sehat, lebih aktif bergerak, dan menjaga kesehatan mental mungkin terlihat kecil. Namun ketika dilakukan secara konsisten di sekolah dan komunitas, tindakan tersebut mampu menciptakan perubahan perilaku dalam skala yang lebih luas."
Sementara itu, Guru SMP IL Kapten Fatubaa Antonius Kapitan mengaku tidak menyangka sekolahnya mampu meraih penghargaan tertinggi dalam kompetisi tersebut.
“Kami para guru terutama para siswa hanya berusaha yang terbaik. Kami berusaha mengubah kulit pisang menjadi produk seperti es krim, pupuk cair, dan pupuk kompos.”
Menurut Antonius, keberhasilan tersebut menjadi motivasi untuk terus mengembangkan program yang telah dijalankan demi memberikan manfaat yang lebih luas bagi para siswa dan masyarakat.
“Kami punya tugas melanjutkan projek ini karena tujuan kegiatan ini bukan untuk memenangkan penghargaan, namun untuk para siswa kami, masa depan mereka, dan komunitas di sekitar kami. Kami ingin terus berproduksi dan memberikan manfaat kepada lebih banyak siswa dan komunitas,” ujar Antonius.