Program ini juga melibatkan perusahaan BUMN seperti Waskita Karya dan Brantas Abipraya, memastikan kualitas dan ketepatan waktu.
Percepatan Pembangunan
Keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada anggaran dan lokasi, tetapi juga pada kolaborasi multi-pihak dan pemanfaatan teknologi canggih.
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sebagai pelaksana utama, bekerja sama erat dengan Kementerian Pertanian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pemerintah daerah, hingga masyarakat lokal.
Pemanfaatan Teknologi Menjadi Kunci
Sistem Irigasi Modern: Penerapan irigasi tetes, irigasi sprinkler, dan irigasi presisi berbasis sensor untuk menghemat air dan meningkatkan efisiensi penyiraman.
Geospatial Technology: Penggunaan citra satelit dan sistem informasi geografis (GIS) untuk perencanaan lokasi, pemantauan progres, dan evaluasi dampak proyek.
Bahan Konstruksi Inovatif: Penggunaan material yang lebih kuat, tahan lama, dan ramah lingkungan untuk pembangunan bendungan dan saluran irigasi.
Manajemen Air Terintegrasi: Implementasi sistem smart farming dan manajemen DAS (Daerah Aliran Sungai) terpadu untuk optimalisasi penggunaan air dari hulu ke hilir.
Dengan pendekatan ini, proyek pembangunan bendungan dan irigasi tidak hanya mengejar target fisik.
Tetapi juga mendorong transfer pengetahuan dan teknologi kepada petani, menjadikan mereka lebih adaptif dan produktif di era modern.
Bendungan Konsep Multifungsi
Wakil Menteri Pekerjaan Umum, Diana Kusmastuti mengatakan pihaknya memegang peran strategis dalam menyediakan infrastruktur bendungan dan irigasi sebagai salah satu pendukung untuk tercapainya target swasembada pangan nasional.
"Proyek bendungan dan irigasi merupakan wujud konkret dukungan Kementerian PU terhadap visi Asta Cita Presiden Prabowo, khususnya dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional," kata Diana kepada Disway.id, pada Jumat, 29 Agustus 2025.
Dalam pelaksanaannya, kata Diana, Kementerian PU bersama dengan Kementan mendukung terwujudnya swasembada pangan.