KUHAP Baru Berlaku, Aturan Pelaksana Masih 'Ngebut'! Apa Kata Menteri Hukum?
Menteri Hukum Supratman Andi Agtas mengonfirmasi, beberapa rancangan peraturan pemerintah (RPP) dan rancangan peraturan presiden (Perpres) yang menjadi amunisi KUHAP baru masih dalam tahap finalisasi
Alasannya, rancangan ini sudah diteken menjadi UU Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana.
Ini menandakan bahwa penyesuaian pidana dalam KUHP sudah terakomodir dalam undang-undang tersendiri.
Ketiga, RPP tentang Tata Cara Kriteria Penetapan Hukum yang Hidup di Dalam Masyarakat atau yang biasa disebut 'living law'.
RPP ini sudah ditetapkan dan kini dalam proses publikasi.
Baca Juga
Hal ini sangat relevan dengan Pasal 2 KUHP yang mengatur mengenai hukum adat.
Kebijakan ini membuka ruang bagi pengakuan dan penerapan hukum adat di tengah masyarakat, sebuah langkah yang dinanti banyak kalangan.
Keempat, RPP tentang Tata Cara Perubahan Pidana Seumur Hidup dan Pidana Mati.
Rancangan ini sudah disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto.
Pemerintah berharap regulasi ini bisa segera rampung dalam waktu dekat.
Kelima, RPP tentang Tata Cara Pelaksanaan Pidana dan Tindakan juga telah diterima oleh Presiden.
Baca Juga
Ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk memastikan semua aspek KUHP baru dapat diimplementasikan secara komprehensif.
Kesiapan Implementasi Menjadi Kunci
Meskipun KUHAP dan KUHP baru telah berlaku, kelancaran implementasinya sangat bergantung pada kesiapan peraturan pelaksana ini.
Menteri Hukum Supratman Andi Agtas terus memantau progresnya.
Pemerintah tampaknya menyadari betul urgensi penyelesaian regulasi ini.
Berita Terkait
Belum Ada Tersangka, Kasus Jual Beli Jabatan ASN Bogor Jalan di Tempat?